Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan

Lebaran Dikala Pandemi


Lebaran 1442 masih dalam keadaan pandemi, mudik masih dilarang dengan banyak penyekatan bagi yg ‘bandel’ mudik tahun ini. Namun Lebaran ya tetap Lebaran gaes, ga peduli masa pendemi atau engga, nuansa lebaran tetap syahdu dengan berbagai moment dan hikmah penting disetiap perjalanannya.

Alunan takbir tetap masuk ke relung hati, merayakan kemenangan sekaligus kesedihan berpisah dengan Ramadhan mulia. Target khataman yang tak tercapai karena hanya mampu berlari sampai Juz 25, serta 12 episode podcast #pejuangkebaikan yang mentok di episode ke 8 adalah salah satu hal yang menjadi catatan penting saya di Ramadhan kemarin.

Dengerin podcastnya disini yuk Podcast Motivasi Bisnis

Namun Lebaran tahun ini adalah berkah bagi kebersamaan keluarga besar kami, yang kita kira akan terasa berat dan hambar ternyata malah penuh senyum bahagia, yang kita kira akan terasa monoton ternyata malah penuh warna.

Sungging senyum di wajah Papa Mama adalah kebahagiaan kami, jawaban atas doa-doa yang dipanjatkan keduanya untuk kebersamaan solid keluarga besar kami. Sungguh Alloh lah pembuat rencana terbaik, manusia hanya bisa mengira-ngira namun ketentuanNya lah yang akan datang kepada kita, karenanya sungguh akan tersiksa hatinya bagi orang yang tidak memahami konsep takdir. Manusia hanya diwajibkan berikhtiar sebaik mungkin, dan serahkan hasil akhirnya kepada Alloh SWT.

Baca Juga Diary Lockdown #01

Jadi hari pertama Lebaran kita habiskan untuk berinteraksi dengan keluarga inti, Alhamdulilah bisa Shalat Ied di Masjid setelah tahun lalu menjadi Imam dan Khatib dadakan di rumah gara-gara pelarangan Shalat Ied berjamaah di masjid. Saling memaafkan adalah keharusan, makan opor dan rendang serta ketupat seperti layaknya Lebaran di waktu normal sebelum pandemi, hanya bagi-bagi angpao kepada para bocah aja yang agak hilang, karena tidak ada moment kumpul bareng seluruh keluarga, tapi ya Biya Basel happy-happy aja sih hahaha.

Alhamdulillah juga adik papa rumahnya satu komplek jadi bisa silaturahim dan video call dengan saudara-saudara dari Medan yang saya belum pernah bertemu langsung, karena keluarga kami multikultur jadi seru, banyak variasi daerah mulai dari Sunda, Jawa, dan Medan. Pokoknya Indonesia banget deh.

Hari ke-2 kita rencana jalan tipis-tipis aja ke daerah bogor...... ceritanya nanti di post terpisah ya biar kalian ga kepanjangan bacanya.

Oya Taqobalallohu minna wa minkum ya teman-teman semua, mohon maaf lahir dan batin dari kami sekeluarga, semoga pandemi ini segera berakhir ya. Salam

Diary Lockdown #1



Sudah hampir sebulan kami sekeluarga #dirumahaja efek pandemi covid-19, terus kudu piye....?

Ini adalah tulisan random isinya hal-hal menarik di masa pandemi, ada aja kegiatan mengisi waktu di rumah bersama keluarga, ada juga info random diluar kegiatan keluarga.

21 April 2020
Ordinary day di new normal ketika masih harus di rumah, mengerjakan tugas kantor dari rumah masih berlanjut.

Namun yang membuat hari ini beda adalah berita dari lingkungan yang memberitakan terjadi pembegalan di pintu masuk perumahan kami sekitar pukul 22.40 WIB. Alhamdulillah korban masih bisa selamat karena keburu lari dan berteriak ke arah pos satpam terdekat. Satpam yang siaga kemudian mengejar pelaku sambil mengacungkan golok, walhasil pelaku kabur tunggang langgang.

Mungkinkah ini efek bebasnya para penjahat dari sel tahanan beberapa waktu lalu?

Entahlah, namun kejahatan sepertinya makin meningkat pasca kebijakan pemerintah membebaskan banyak narapidana beberapa waktu lalu.

Jadi semakin was-was dengan keadaan sekarang, ditengah pandemi yang masih mewabah ditambah kejahatan yang makin sering terdengar.

24 April 2020
First Day Ramadhan di tengah pandemi covid-19, adalah Ramadhan yang tidak biasa. Tidak ada ‘munggahan’ bersama keluarga besar, tidak ada tarawih di masjid. Sedih sebenarnya, namun harus bisa diterima dengan lapang dada demi kebaikan bersama.

18 Mei 2020
10 hari terakhir Ramadhan, ga terasa udah mau selesai aja nih bulan puasa. Catatan menarik hari ini adalah bagaimana antusiasnya istri saya mencukur rambut saya dan Basel menggunakan alat cukur yang baru kami beli.

Berbekal tutorial dari YouTube jadilah salon dadakan hari ini, hasilnya?

Not bad lah ya for newbie :)

19 Mei 2020
Hari ini planning sebenarnya padat merayap, mulai dari mau ke bank sampai ambil mobil di rumah mertua di Ciputat. 

Keluar rumah seperti ini kalau ga penting-penting amat sebenarnya males, selain menghindari kontak dan khawatir terpapar virus covid19 juga karena begitu panasnya cuaca di hari ini padahal sudah pukul 14.30. 


Namun yang amazing banget adalah ternyata jalanan ramai layaknya hari normal, diwarnai beberapa titik macet dan kerumunan orang disana sini yang sebagian tidak memakai masker. Lengkap banget dengan suasana panas menyengat hari ini

Seperti ga PSBB lho, selaras dengan nyanyian Rap “terserah...terserah” dan naiknya trending topik #IndonesiaTerserah

Kapan mau berakhir pandemi nya kalau kaya gini...

21 Mei 2020
Ada ide kreatif dari istri untuk cat rambut..... 

What?

Seumur umur ga pernah dan ga pede cat rambut lho saya, padahal dulu waktu kuliah di Unsoed dan sering manggung dari kampus ke kampus sempet kepikiran, tapi ya itu tadi merasa ga pede aja. Dulu malah milih untuk di kepang kecil-kecil aja, yg di cat malah temen saya yang pegang Bass.

Well selalu ada pertama kali untuk sesuatu yang baru, dan sepertinya saatnya tepat untuk berani cat rambut mengingat kegiatan #dirumahaja dan #workfromhome jadi ya Bismillah aja dicoba, karena yang jadi ‘salon’ nya juga istri sah ya bukan kaleng-kaleng 😂


Btw sebelumnya saya dan Basel sudah menjadi bahan experimen juga untuk potong rambut lho pake alat barbershop, amazing

Tar lanjut di Diary Lockdown #2 ya ceritanya .....


Berteriak Dalam Sepi


Baru sekarang saya beranikan diri untuk post tulisan blog ini, berat rasanya menulis ini, menceritakan kembali suatu cerita yang teramat saya rindukan. Cerita mengenai sosok panutan yang berpengaruh bagi hidup saya.

Saya menemukan detak cinta disetiap sudut rumah kami di Ciamis, asupan kasih sayang yang tak pernah habis dicurahkan kedua orang tua kami waktu itu.

Cerita mengenai orangtua kami adalah mutiara, hanya akan didapat jika masuk ke relung lautan hati yang dalam. Namun, kali ini saya ingin menulis tentang sosok pahlawan dalam diri Ikin Ahmad Sodikin, kakak sekaligus sosok idola bagi saya.


"Aku ingin menjadi seperti dirimu ang, pejuang arief bijaksana, penyayang pada keluarga dan sekitar" 

Kecintaanmu, baktimu kepada orangtua kerap membuat aku menangis jika mengingatnya. Pernah kamu membawa baskom berisi air, kamu cuci kaki 'ema', kamu cium kaki beliau dengan takzim sambil meminta doa dan keberkahan





Mungkin kamulah yang menjadi pengganti orang tua setelah ema bapak meninggal, aku ingat bisikanmu ke telinga ema sebelum beliau wafat "ma yang tenang, andi akan Ikin urus" kata kata yang membuat ema lega dan meninggalkan dunia fana ini dengan tenang.

Kamu tepati janjiimu, mengantarku sampai wisuda, memberi jalan pekerjaan, dan selalu ada ketika dibutuhkan. Ah sangatlah berhutang budi diri ini ang...



Saat ini aku sering merindukan pesan singkatmu untuk bertemu atau datang sepulang kantor sekedar bercerita dan berbagi ide, atau janjian kita untuk mudik bareng ke Ciamis ketika Lebaran tiba. Rasanya belum bisa hilang dalam ingatan.




Doaku selalu untukmu ang, doa terbaik bagi para penghuni syurga. Kebaikanmu menghantarkan senyum yang tersungging abadi dalam bibirmu setelah terucap kalimat tauhid hari itu. Really miss u, i really do....



Cinta Untuk New Zealand



Saya tulis ini dengan rasa cinta kepada saudara-saudara saya di New Zealand.

Kejadian hari Jumat kemarin menurut saya adalah bentuk terorisme nyata, bentuk rasisme tingkat tinggi akibat  kampanye rasis oleh pihak tertentu terhadap umat Islam. Apakah saya marah ? iya tentu saja saya marah, saya punya hak untuk marah atas kejadian yang menimpa saudara seiman saya, namanya ukhuah Islamiah, satu bagian badan sakit maka seluruh anggota badan merasakan sakit yang sama.  

Apakah dunia akan mengatakan ini aksi teroris ? saya tidak peduli, hati nurani saya sudah tidak peduli lagi terhadap apa yang akan dikatakan oleh media, baik luar maupun dalam negeri, begitu banyak aksi kekerasan terhadap umat Islam di seantero dunia, apakah pelaku disebut teroris ? TIDAK, karena itulah saya tidak peduli, yang saya pedulikan adalah rasa cinta dan kekaguman kepada mereka yang tetap istiqomah dalam tekanan, yang mampu melipatgandakan keimanan dalam dadanya ketika mereka tertindas. 

Saya kagum dan saya iri pada kalian…..

Di hari jumat yang mulia, mereka yang berjalan menuju Masjid Al Noor dan Masjid Linwood di Christchurch saya yakin tidak tahu bahwa mereka akan menjemput syahid disana, bahkan anak-anak yang riang tidak akan mengira akan bertemu Penciptanya dalam waktu dekat. Tapi Alloh selalu memberikan jalanNya bagi orang yang bertakwa, yang tidak akan dimengerti oleh kalian diluar Islam. 

Mereka kira dengan membantai kami ketika kami berkumpul bersujud menyembah Alloh adalah suatu kemenangan, padalah jika mereka membaca literaur pada pejuang Islam dari zaman Nabi sampai hari ini, tidak akan ditemukan pejuang yang merasa takut atapun menghindari menyembah Alloh karena takut mati. Bahkan mereka akan melaju kencang menuju ‘apa yang mereka anggap menakutkan’, terror kalian tidak akan membuat kami takut, justru sebaliknya iman kami akan semakin bertambah dengan kejadian ini, just like I said, you guys will not understand….

Tak terhitung jumlah korban jiwa di Irak, Palestina, Syiria, Uighur, Rohingya, dan tempat-tempat lain dimana kaum muslimin dibantai. Apakah jumlah dan keimanan kami memudar ? tidak sama sekali, atau runutlah sampai kepada awal kenabian, apakah Bilal mau berhenti mengucapan ‘Ahad’ ketika dia dijemur tanpa pakaian, dadanya ditindih batu, diterlentangkan di panasnya padang pasir ? mulut dan lidah nya tetap mengucap keesaan Alloh ditengah siksaan yang mendera.

Janji Alloh itu adalah pasti, cepat atau lambat kita semua akan dikumpulkan bersama, disanalah keadilan yang hakiki akan terjadi. Disana saya yakin kalian akan menemukan keadilan yang tidak kalian dapatkan di dunia ini saudaraku, tempat kalian pastilah indah dimana tidak ada lagi rasa sakit yang mendera. Sedangkan kami disini, yang masih bertarung dengan dunia belum tahu apakah bisa berada di barisan kalian atau tidak. Kami yang setiap harinya berkutat dengan tuts keyboard ini bahkan kadang belum mampu menceritakan kisah kalian di timeline kami. Tapi janganlah ragu, jika Alloh sudah menghendaki kemenangan bagi umat Islam, makar manusia secanggih apapun tidak akan mampu menandingi makar Alloh.

…….

Kalian tidak tahu, mukmin yang meninggal di hari Jum’at mendapat perlindungan dari azab kubur.
Kalian tidak tahu, Alloh menganugrahkan syahid bagi mereka yang meninggal terdzalimi dan melindungi darahnya hingga titik akhir.

Kematian yang mulia bagi kalian saudaraku….

(Kembali) Mencoba Menjadi Narablog


Menjalankan profesi seoarang Narablog atau biasa dikenal dengan Blogger sebenarnya berawal dari keinginan untuk sharing pengalaman yang dialami sehari-hari, ditambah lagi kan kayanya keren ya kalau banyak yang baca tulisan kita dan menginspirasi banyak orang. Bahkan dulu saya sempat membuat blog khusus untuk jualan kaos, fungsinya cuma sebagai etalase barang dagangan aja dan engga kepikiran hal-hal lain. Blog lain yang sempat saya coba ber ‘niche’ Pendidikan, isinya adalah konten cara mengajar dan aktifitas kelas yang pernah saya lakukan sewaktu dulu menjadi staff pengajar di salah satu sekolah swasta di bilangan Tangerang Selatan, tapi ya itu tadi hanya sekedarnya saja.

MENDAPAT INSPIRASI 

Berbicara mengenai inspirasi, memang bisa datang dari mana saja, salah satunya dari membaca tulisan narablog yang lain atau kejadian yang dialami pribadi sehari-hari. Namun semua tidak semulus yang dibayangkan, pasti ada tantangan, salah satunya adalah konsistensi, kadang semangat tinggi untuk mengeluarkan pikiran, namun ketika hilang ide biasanya update blog juga menjadi terbengkalai. Beruntung bagi saya, beberapa bulan yang lalu saya bertemu kawan-kawan blogger di Facebook, saya mulai mengikuti akun sosmed mereka dan melihat bagaimana mereka sangat antusias dalam menulis dan update blog secara berkala.

Tulisan-tulisan mereka yang beraneka ragam, dan selalu update dalam mengisi blog membuat saya terkesima, betapa konsisten para blogger ini dalam menulis, sesuatu hal yang mungkin selalu saya lalaikan. Dengan berbekal semangat saya mulai kembali menulis tulisan pendek harian di Instagram selama 30 hari, dan sampai tulisan ini dibuat saya masih rutin menulis tulisan pendek saya di Instagram @andigarmadi (doakan semoga konsisten)

Dari merekalah saya banyak belajar mengenai konsistensi, gaya penulisan, sampai desain dan postingan yang keren di sosial media. Di titik ini saya seperti didorong untuk kembali menempatkan jari ini di tuts keyboard laptop dan handphone untuk kembali menulis.

ERA DIGITAL BAGI NARABLOG

Lama saya merenung, kemudian mulai menyadari bahwa di era digital seperti sekarang, menjadi Narablog boleh jadi adalah solusi bagi para penulis untuk share karya mereka kepada publik dengan cepat, dengan teknologi kita mampu untuk menuliskan opini maupun pengalaman hidup tanpa melalui proses bertele-tele ataupun seleksi ketat ala media cetak jaman dulu.

Saya lebih senang menyebutnya transformasi digital, bagaimana perkembangan teknologi sekarang telah membawa kita pada fase revolusi industri 4.0. sebagaimana revolusi industri terdahulu dari mulai revolusi industry 1 sampai 3 yang kesemuanya bertujuan untuk memudahkan kerja manusia, menyederhanakan proses sehingga bisa menghasilkan hasil yang signifikan. Dulu rasanya sulit banget ya ketika kita ingin tulisan kita masuk di media cetak, persaingan pasti sangat ketat, belum lagi harus mengetik di mesin tik dan dikirim via pos selama berhari-hari, setelah itu kita menunggu kepastian yang belum pasti berapa lama. Well itu sekelumit masa lalu yang sudah dihilangkan oleh kemajuan digital.

Kemudahan yang didapat di era digital ini harus dong meningkatkan produktifiitas kita, terutama para blogger. Yang harus diutamakan adalah mencari ide dan niche tulisan saja, selebihnya teknologi akan membantu dalam menyiapkan platformnya semisal blogger atau wordpress. Gampang banget kan ? template sudah disiapkan, kita tinggal pilih yang cocok dengan selera kita. Tinggal tulis dan share di sosial media, jadilah tulisan kita mulai berseliweran di timeline.

Berbicara produktifitas, Era digital lagi-lagi memberikan kemudahan, seperti aplikasi ngeblog yang bisa di unduh di smartphone, jadi dimanapun kalian bisa menuliskan ide-ide di blog secara langsung, kalau tidak mau unduh pun kita masih bisa menggunakan fasilitas notes yang pastinya ada di tiap smartphone. Intinya adalah kemauan diri kita mau menulis atau tidak, dengan semua kemudahan yang ada seharusnya sih lebih semangat menulis ya (self reminder buat saya juga)

Selain menulis di blog sendiri, kemajuan teknologi telah membuka kesempatan untuk Narablog menulis artikel di portal berita, tentu saja dengan seleksi ya. Namun prosesnya tidak serumit masa lalu, sekarang tinggal ketik tulisan dan send via email, dan kita tinggal tunggu approval atau persetujuan pihak terkait, dan selesai.

Nah jadi yang diperlukan adalah kemaun kita untuk menulis, ide-ide perlu terus digali supaya tulisan kita menjadi lebih menarik minat pembaca. Kadang tulisan tidak harus Panjang, yang penting bisa mewakili suasana hati pembaca. Sering juga saya membaca cerita yang Panjang tetapi entah kenapa rasanya kok engga terasa banget, tahu-tahu sudah di ending cerita. Nah disitulah letak tantangan yang harus dihadapai para blogger, bagaimana ‘membius’ pembacanya supaya menyelesaikan bacaanya sampai akhir, dan itu tidak mudah Ferguso 😊


BANGGA MENJADI NARABLOG PADA ERA DIGITAL

Sebagai generasi (pra) milenial, yang mengetahui bagaimana pergeseran teknologi ini terjadi, tentu menjadi kebanggaan berada di barisan milenial yang energik dengan segudang kreatifitas tulisan dan karya, sekaligus juga tantangan, mampukah bersaing dengan mereka ?

Saya masih ingat dulu ketika sekolah harus menulis karangan sebanyak 2 lembar kertas folio secara manual, setelah itu berkembang dengan mengetik di mesin tik jadul yang beratnya bisa dipake sebagai barbel di gym. Saya yakin generasi milenial tidak mengenal jenis mesin tik type barbel seperti saya.

Dari sekian banyak pengalaman menulis, saya terbilang minim melakukan publikasi dan tentu saja apresiasi menjadi barang mahal. Palingan Cuma share di WA grup keluarga saja, itupun entah dibaca atau tenggelam oleh chat pesan berantai yang memaksa disebarkan kembali jika tidak ingin kesialan menimpa.

Di beberapa tulisan blog memang ada sih  beberapa komen yang mengapresiasi tapi tidak banyak, maklumlah ngeblog masih sekedar menyalurkan cerita dan aspirasi diri saja. Kepercayaan diri saya mulai tumbuh lagi ketika saya mendapat apresiasi berupa regram pada hari ke-7 tulisan pendek di Instagram oleh akun @30haribercerita, pencapaian yang sangat berarti dalam ukuran saya yang baru mulai menulis kembali setelah sekian lama vakum. Rasanya tuh seneng banget, begitupun ketika membaca komen yang muncul di postingan tersebut, Alhamdulillah seperti mendapatkan energi tambahan untuk menulis lagi dan lagi.

Acara di Kantor Microsoft

Menjadi Narablog juga berarti berksempatan menyebarkan informasi kepada publik. Selain itu kita juga mempunyai kewajiban untuk memberikan konten positif, setidaknya berkontribusi dengan cara tidak menyebarkan informasi yang berpotensi memecah belah atau berita hoax yang meresahkan. Bukankah akan lebih bermanfaat jika kita share hal-hal yang berguna bagi para netizen semisal berbagi ilmu atau tips & trik iya kan ?.

Rasanya senang ketika bisa menyebarkan kebaikan, setidaknya kita bisa berpartisipasi memberi motivasi, cerita membangun dan kegiatan positif. Terus terang saya merasa prihatin dengan kondisi informasi negatif sekarang ini, aroma kebencian, kenyiyiran, serta hoax seperti menghiasi timeline sosial media. Bahkan banyak yang tadinya teman malah berantem karena beda pilihan politik. Lelah sudah rasanya membaca energi negatif yang membumbung tinggi.

Nah, menyebar konten positif adalah suatu solusi untuk menenggelamkan berita negatif tersebut di beranda kita, dengan aktif menuliskan status positif maupun share tulisan blog kita yang menginspirasi setidaknya akan memberikan warna baru bagi teman yang membaca timeline sosial media, siapa tahu ada teman yang sedang membutuhkan semangat karena gundah gulana akibat ditinggal pergi pacarnya, ketika membaca blog yang kita bagikan suasana hatinya menjadi lebih ceria dan termotivasi untuk bangkit dari keterpurukan. Kan jadi bernilai ibadah betul tidak ?

Jujur ya, menuliskan apa yang ada dikepala kita itu seperti memberikan kepuasan bathin tersendiri, bisa menyalurkan ide melalui media tulisan akan menimbulkan gairah seperti melepaskan suatu kepenatan. Dari sana mulai tercipta gaya tulisan dan niche yang membuat kita nyaman dalam menulis. Berhasil membuat tulisan yang menyentuh hati pembacanya merupakan prestasi tersendiri, bukankah para penulis ulung juga memulai tulisan dari satu paragraf ?

Hal-hal kecil kecil seperti itulah yang membuat saya bangga menjadi narablog,


MEMBUNGKUS RESOLUSI

2019 yang baru dimasuki menjadi tonggak untuk menentukan tujuan 1 tahun kedepan, resolusi yang biasa menjadi usang seiring waktu berjalan harus segera diperbaiki, dengan konsistensi.  Ya konsistensi adalah resolusi yang rasional bagi saya yang baru bergerak lagi untuk menulis, bisa memaksimalkan waktu antara kerjaan di kantor dan kegiatan blogging sehingga bisa seiring seirama. Karena kadang ketika tumpukan kerjaan kantor overload, energi dan ide untuk menulis otomatis akan menurun, yang pada akhirnya terlupakan.

Pengen banget mendisiplinkan diri menulis harian, bahkan mungkin bermimpin membuat sebuah buku, ah….. mudah-mudahan saja dengan konsistensi menulis di 2019 maka selangkah demi selangkah dapat mendekati impian. Aamiin

Pernah Ngalamin 5 Hal Ini Gak ?


Rutinitas pulang kerja naik KRL, turun stasiun Depok Baru lanjut angkot 03 arah Parung harus ane lalui belakangan ini. Maklum, transportasi umum menjadi lebih masuk akal ketimbang bawa kendaraan pribadi, entah itu macet ataupun stress dijalan.

Dari sekian banyak rutinitas bolak balik, setidaknya ada 1-2 kejadian menarik setiap bulannya gaes. Ane rangkum aja beberapa yang rada 'extra ordinary' versi ane

Berikut rangkumannya :

1. Sopir Angkot Galau

Kamu pernah pacaran ? Pernah dong ngalamin galau, nah karena Sopir angkot juga manusia biasa yg tidak luput dari dosa eh galau maka dia juga berhak dong...

Story : Ane naik angkot dari st Depok Baru, memang sih tu angkot sewanya dikit, bisa diitung jari tangan kura kura ninja. Di area depan sang sopir ditemani (mungkin) pacar atau TTM entahlah ane ga ngurus (tadinya).

Kalau sopir angkotnya kek gini, penumpangnya yang pasti galau ... (ilustrasi)

Kenapa jadi ngurus ? Soalnya si cewek mulai pasang raut muka bete, ngerti kan gimana kalau cewe lagi bete ? Kamu mah engga ngerti mblo !!

Wajah nekuk sambil sibuk main hape, si supir jadi galau dan bingung. Diajak ngobrol tu cewe diem (sinyal 1), dinasehatin "udah ngapain sih mikirin dia?" Makin bete main hape (sinyal 2), sialnya ane menjadi penghuni terakhir di angkot dia. Ya kena imbas lah....

"Bang turun sini aja ya, saya ada urusan" gitulah kira kira dia ngomong "ga usah bayar" lanjutnya.

Antara seneng ga bayar sama bete mesti ganti angkot, sambil ngeloyor turun ane nyamber "Urusan cewe aja lo ribut, niat kerja ga?" sambil senyum dalam hati (karena ga bayar)

2. Nemenin Bapak Kerja

Masih story di angkot, mohon disimak secara serius dan seksama ya gaes.

Ni angkot lagi ngetem deket flyover st Depok Baru,  tapi beda dengan sopir yg lain, ni abang sibuk bener di depan, ternyata dia didampingi 2 bocah kecil, yg satu mungkin umur 6, adeknya kayanya baru 4 tahunan deh. Ane kira ada ibunya, ternyata engga. Tu abang sopir ngangon bocah sendirian, emejing sih menurut ane. Kebayang kalau tu bocah kebelet di tengah jalan yg macet + penumpang penuh, mau pilih mana, penumpang pada turun / aromatheraphy sepanjang jalan ? Pilihan sulit pemirsa....

*Please jangan dibayangin .......

Tu bocah main main berdua, sesekali makan snack seadanya, pakaiannya lusuh. Sang kakak pake kaos putih doang, sang adik baju putih kumel. Ane inisiatip lah ngobrol sama mereka berdua, ngaler ngidul khas omongan bocah gt. Lucu sih, cuma mikir ibunya kemana tho ? Tega bener bapake kerja jadi sopir, masih aja disuruh ngangon bocah, malem pula.

Nih 2 bocil yang ikut bapaknya kerja, kapan ketemu lagi yak ? *Jepretan Pribadi

"Om itu apa ?" Sambil nunjuk hape sama powerbank, "oh ini hape" jawab ane, setelahnya ane lupa sih siapa yg inisiatif foto-foto. Singkatnya ane fotoin deh mereka berdua, seneng banget lihat tu bocah bocah pada happy hanya dengan diajak ngobrol dan foto doang :) 

3. Saya Ga Bakalan Tua !

Mungkin bapak ini Wolverine yg ga bisa menua....

Kalau kalian rutin berangkat-pulang kantor naik Transjakarta/KRL pasti familiar banget dong dengan kondisi penumpang yg numpuk kek ikan asin, dapet nafas aja Alhamdulillah gaes.

Dalam kondisi kek gitu kita dituntut untuk peka dengan keadaan sekitar, dalam arti "lo mesti lihat disekeliling ada penumpang prioritas ga ?" Jadi kalaupun kalian dah pewe duduk, terus lihat penumpang prioritas depan idungmu ya mesti ikhlas lah ya tempat duduk kalian kasih.

Ini mah pas ane kebagian duduk di Transjakarta :) *Jepretan Pribadi

Nah ini kejadian di Tranjakarta, ane naik dari halte Ciputat, transit Pondok Pinang lanjut arah Senen. Tu Bis kecil type Kopaja dah penuh ampe tumpeh tumpeh, ane aja kebagian berdiri disudut belakang bis. Nah di halte *ane lupa persisnya, naeklah kakek kakek, dan ajaibnya ga ada yg tergerak berdiri, kebetulan tu kakek berdiri depan ane. Dan didekat si kakek itu duduk dengan gagah pemuda idaman bangsa dengan badan gede, dan satu pemuda cungkring disebelahnya yg ga tau tidur apa "meremin mata" doang.

Ane mulai kasihan melihat si bapak kepayahan berdiri, lah aku iseng aja nanya ke pemuda gagah tadi, "Mas prioritas mas!" Sambil nunjuk ke kakek depan, and u know what gaes tu pemuda cuma nengok ngomel dikit dan tetep duduk manis di tempatnya.

What the **** ! Ane dicuekin, Ga bakalan tua kali nih orang...

Terus terang ane kasihan sama tu kakek, cuma ane ga mau ah berubah jadi Spiderman terus nembak tu pemuda pake jaring laba-laba, bisa berabe.... ketauan dong kalo ane Peter Parker *ya kalee

Untungnya setelah beberapa halte dilalui ada juga yang turun dan si kakek bisa duduk melepas pegal.

4. Saya Nyanyi atau Kumur Kumur Terserah Saya

Nah kalau yang ini, ane kira banyak sudah yang mengalaminya. Konser dadakan di tiap lampu merah. Ayo ngaku !

Sebetulnya ngamen sih oke-oke aja, di tiap negara pun sepertinya ada tuh pengamen. Yang jadi problem adalah ketika ngamen nya jadi ga jelas gitu, u know what i mean ?

ilustrasi
Contoh nyata : Nyanyi 2 bait lagu dengan modal tepuk tangan terus minta uang dan turun, Tampang seram dengan piercing dimana mana dilengkapi tatto kadang bau alkohol dan bau lainnya nyanyi mengenai anti-sosial dan nyanyi tema nyindir penumpang, Ada juga nyanyi kaya orang kumur-kumur ga jelas, tiba-tiba minta duit....

Duh, mbok ya sekali kali Duo Srigala aja lah yang ngamen, dijamin penumpang melek sampe Parung !

5. Pokoknya Transportasi Online Cari Sewa di Mars Aja Titik !

Ini adalah Curhat abang angkot ....

Ane rasa abang angkot ini mantan orator di sekolahnya dulu deh, berapi-api *walaupun ga sampe kebakaran menceritakan betapa kesalnya dia terhadap transportasi online yang makin marak.

"Mestinya Ojek online itu dilarang lah" percakapan dimulai deh

"Nyari sewa makin susah, ini ditambah lagi ada go*** " ketusnya

"Kita mesti demo !! nah kan supir parung kenal sama supir bogor, ajakin tuh demo bareng, kalau demo kita-kita doang mah ga mempan" ini abang angkot ngomong ke temennya lho ya bukan ke ane *catet

"Tar rugi kan pemerintah ga dapat pemasukan" lanjutnya. Temennya cuma nyaut ya..ya.. doang

Ane sih terbantu dengan adanya abang ini  *ilustrasi

Ane yang denger pengen banget nyeletuk,

"Bang Kalau semisal abang saya suruh berhenti pake HP android dan kalau mau tlp cari warnet terdekat mau ga bang ?"

"Abang tahu ga kalau dulu Angkot dah ngambil lahan tukang ojek pangkalan ?"

"Atau abang tahu ga kalau dulu tukang ojek pangkalan ngambil lahan abang becak ?"

Tapi ah sudahlah, daripada ane diturunin kek sopir angkot galau di poin 1, lebih baik ane baca berita penyiraman air keras Novel Baswedan yang ga kunjung kelar !

Mungkin tar kalau umat manusia dah mau pindah ke Mars, Abang Go*** dan teman-teman mesti duluan pindah, biar ga rebutan sewa sama Abang angkot yang ngajak demo.