Tampilkan postingan dengan label working attitude. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label working attitude. Tampilkan semua postingan

Gimana Cara Mempersiapkan Presentasi yang Baik?


Pernah ga kalian mengikuti presentasi baik di sekolah, seminar, maupun di tempat kerja dan merasa bosen? atau sebaliknya kalian mendapat pengalaman yang luar biasa dari presentasi yang kalian ikuti?

Nah sebenarnya secara external hal itu dipengaruhi oleh performance dan pemaparan materi oleh si pembicaranya sedangkan secara internal dipengaruhi oleh butuh atau tidaknya kita terhadap materi presentasi tersebut.

Jika kalian menjadi narasumber maka penting banget bagi kalian untuk mengetahui audiens, baik itu umur, pekerjaan, bahkan jabatan supaya materi yang kalian paparkan benar-benar memberikan impact dan kesan yang mendalam bagi audiens.

Baca Juga : Jangan Menyerah Walaupun PPKM

Selain itu hal penting lainnya adalah selalu biasakan untuk membuat materi presentasi di slide sesederhana mungkin... ya sesederhana mungkin, kurangi tulisan karena seyogyanya slide itu berfungsi untuk membantu kalian dalam mendeliver presentasi supaya lebih jelas, jadi konteks nya bukan baca slide ya namun slide 'membantu' penyampaian presentasi. Ini yang kadang terbalik.

Performance dan tampilan dari pembicara juga menjadi hal penting lainnya gaes, saya pribadi kalau menghadiri suatu presentasi biasanya yang pertama saya perhatikan adalah kostum/tampilan si pembicara, jadi kaya 'first impression' gt deh ya, setelahnya baru deh gimana pemaparan materi dll.

Untuk lengkapnya mengenai apa aja sih yang perlu diperhatikan seorang pembicara sebelum melakukan presentasi saya coba buat rekapnya di video Youtube berikut ini, mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi kalian yang sedang mempersiapkan diri untuk presentasi baik offline maupun online, cekidot!


15 Hal Yang Dilakukan Pengusaha Sukses


Terinspirasi oleh sebuah tulisan untuk menyadarkan kita para pebisnis terutama pemula seperti saya hehehe, bahwa kebiasaan itu akan melahirkan suatu budaya, paling tidak budaya untuk diri kita sendiri. berikut saya coba rangkum dalam tulisan sederhana. selamat membaca

Make Others Feel Safe to Speak-Up

Kebanyakan pemimpin hanya mengintimidasi bawahan mereka dengan title serta kekuatan mereka.

Empat Hal Yang Membuat Bos Jadi Buruk

Menemukan hal menarik di kaskus, ga ada salahnya ane upload di blogger ane ini hehehe, kan jika kita dapat ilmu sebaiknya kita sebarkan, siapa tahu bisa berguna bagi orang yang membacanya.

Menjadi atau memiliki seorang atasan yang buruk tentu bukan impian. Seorang bos memiliki otoritas dan fungsi yang penting dalam menjalankan sebuah bisnis. Kenalilah tanda-tanda seorang bos yang buruk. Bila Anda memiliki satu dari sembilan ciri seperti yang dirilis Inc.com berikut, maka Anda perlu berhati-hati.

1. Manajemen adalah perintah dan kontrol
Bos yang buruk mempercayai bahwa tugasnya adalah menyuruh karyawan untuk melakukan sesuatu dan memastikan mereka benar-benar melakukannya. Bos yang baik membantu karyawannya untuk lebih sukses dan membuat keputusan sulit yang tidak bisa diselesaikan karyawannya.

2. Karyawan harus mau bekerja lebih lama
Bos yang buruk menganggap bahwa karyawan yang tidak mau bekerja 60 jam seminggu adalah karyawan yang pemalas. Sebaliknya, bos yang baik mengetahui bahwa memaksa karyawan untuk bekerja lebih dari 40 jam seminggu akan mengurangi produktivitas.

3. Saya mengelola angka, bukan orang
Bos yang buruk mengerahkan seluruh energinya untuk memastikan angka-angka yang muncul di laporan adalah angka yang tinggi, meski kadang harus mengubahnya. Bos yang baik tahu bahwa untuk mencapai angka yang tinggi adalah dengan mendukung karyawannya untuk mencapai angka mereka.


Bos yang buruk berpikir bahwa ia adalah pemain utama yang dapat menyelesaikan semua masalah dengan mengambil alih kembali otoritas dan tanggung jawab. Bos yang baik menyadari bahwa kepemimpinan yang sebenarnya adalah memotivasi karyawan-karyawannya untuk membuat kesuksesan dan kegagalan mereka sendiri.

4. Bila saya ingin sesuatu selesai, maka saya mengerjakannya sendiri

4 Tiang penyangga bisnis anda

Kemarin saya membaca milis yang saya ikuti, banyak pelajaran dan hal-hal baru yang bisa saya dapatkan dari milis tersebut. salah satu hal positif yang saya dapatkan adalah networking dan saran-saran serta ulasan bisnis beserta trik-trik yang membantu saya untuk berfikir lebih maju lagi.

seperti tips bisnis berikut ini yang ditulis oleh pak Taufan Wiguna, yang menurut saya perlu disebarkan kepada para penggelut bisnis di Indonesia (dengan seizin beliau tentunya hehe)
Berikut saya coba paparkan isinya : 

Ada 4 hal yang berkorelasi untuk membentuk bisnis yang kuat


1. Strong intention

Alasan kuat untuk berbisnis apa? Hanya untuk menciptakan lapangan pekerjaan? Atau ada mimpi yang lebih tinggi lagi.. Eksplorasi lebih luas tentang visi.

2. Hot stuff 


Hot stuff maksudnya value/nilai/manfaat produk itu sendiri harus dapat: membantu mewujudkan mimpi seseorang (kayak apple dgn ipod, ipad, iphone, dan cloud-nya), dibutuhkan, dan untuk menghindari ketakutan seseorang (seperti cewek takut klo kulit hitam itu gak laku, beli produk pemutih kulit).

3. Fit 2 u 


Bisnis kita mencerminkan diri kita.. Misal jualan pakaian muslim laris manis saat mau lebaran.. Tapi kok kita gak srek dgn jualan pakaian karena karena lebih suka masak daripada fashion..akhirnya bikin kue aja.. Ini soal passion, skill, minat dan bakat. 

4. Fit 2 market 


Tidak ada produk yg bisa dijual ke semua orang.. Jadi kita harus menempatkan bisnis kita di segmen pasar yg mana.. Contoh Aston Hotel. Aston hotel segment nya yg mampu bayar kamar jutaan.. Nah, manajemen aston jg membuat hotel yg segmennya dibawah itu. Namanya Fave Hotel.

Soal bisnis apa yg cucok? Jawab ke-4 hal ini dulu.....

Bekerja sebagai suatu sistem

Organisasi atau tempat bekerja kita adalah system, disadari atau tidak kita adalah bagian dari system. Setiap system mempunyai tugas dan kewajibannya masing masing. Oke kita buat perumpamaan yang bisa kita fahami bersama.

Mari kita bicarakan mobil, mobil adalah satu kesatuan system yang berkaitan satu dengan lainnya. Setiap unsur yang ada dalam mobil itu mempunyai tugasnya masing-masing. Gas mempunyai tugas untuk menaikan kecepatan mobil, rem mempunyai tugas memperlambat dan menghentikan mobil, begitu pula dengan lampu, steer,  jok, kipas kaca dll.

Coba kita bayangkan apa jadinya jika tiap-tiap unsur tadi memasuki area yang bukan tugasnya. Gas tiba-tiba saja memasuki area kerja rem, dimana tiba-tiba ketika supir menginjak gas malah berhenti. Tiba-tiba saja kopling malah masuk area steer. Apa yang terjadi ? yang terjadi adalah kekacauan system, bahkan bisa mengakibatkan kecelakaan di jalan raya bagi pengendaranya.

Jadi jalankanlah peran dan tugas kita sesuai proporsi dan job desk yang harus kita lakukan, jangan terlalu mencoba memasuki area yang bukan hak kita. Karena akan mengakibatkan kerancuan system yang akan mengakibatkan roda perjalanan organisasi atau tempat kerja kita menjadi kacau.

Jalankan saja yang menjadi otoritas kita, karena kelancaran laju organisasi tidak hanya tergantung pada satu unit bagian, tetapi tergantung dari bergulir tidaknya semua unit yang melingkupi system tersebut. Apakah bergulirnya tersendat, lancar atau malah berhenti sama sekali.

Don't Give Up


Banyak manfaat dari mengikuti milis yang menjadi minat dan sesuai dengan hati nurani kita. Salah satunya adalah sebagai pendorong/booster semangat ketika kita merasa down atau kurang bersemangat. 

Seperti malam ini, setelah berkutat dengan angka untuk menyelesaikan tugas kerjaan yang terdelay, langsung buka email dan membaca milis TDA. Ada satu kiriman email yang menurut saya layak untuk di sharing kembali atau di copas ke blog saya ini, semoga bisa member manfaat juga bagi kalian yang membacanya. Toh copas (copy paste) yang bermanfaat bagi orang lain menurut saya sah-sah saja karena menyebarkan hal-hal baik dan bermanfaat bagi orang lain adalah bernilai pahala.

Berikut saya sharing kembali artikelnya.


Bali Post, Edisi Minggu 5 Juni 2011 (hal. 3).
Sebuah artikel yang ditulis oleh CEO BPR Lestari,
Alex P. Candra,
dalam kolom Money and I.



ENTERPRENEUR IN TRAINING I  (Part-4)
Leveraging Yourself, by Making a Decision


Bapak/Ibu sekalian, ketika ditanya apa yang membuat saya keep on going in desperate hour, dalam masa-masa sulit, 3 - 4 tahun pertama dalam karir bisnis saya? Apa yang membuat saya tidak menyerah? Jawabannya adalah karena saya tidak punya kemungkinan lain lagi.

I already gave up my career

Saya tidak punya pilihan lain, either I succeed or I die. Begitu kira-kira.

Banyak teman saya yang memulai bisnis part time. Jadi sambil menekuni profesional works-nya, ia 'nyambi' membangun bisnis. Cara ini jarang berhasilnya. Membangun bisnis di awalnya membutuhkan ketekunan. Sama seperti ketika kita menanam benih, awal-awalnya harus dipelihara ekstra ketat. Kemungkinan benih tadi mati sebelum pohonnya tumbuh, besar sekali. Tingkat kesulitan yang paling tinggi ada di awal-awal pendirian sebuah bisnis. Apalagi bisnis kecil dan sifatnya start-up.

Nah, teman-teman saya yang nyambi tadi, ketika bisnisnya 'susah', akan gampang sekali untuk menyerah, karena mempunyai pilihan lain. Akibatnya secara alamiah, ia tidak tekun dan gampang menyerah.

Sebaliknya bagi orang-orang yang sudah tidak punya pilihan lain, ia lebih tekun, lebih resielence,karena baginya tidak kemungkinan lain. Apakah ia akan berhasil atau mati. Apalagi jika nasib anak istri menjadi taruhannya.

Dalam teori motivasi, decision memegang peranan penting. Decision berasal dari kata latin, yang artinya memotong (to cut). Ketika seseorang decide (memutuskan) artinya ia memotong kemungkinan yang lain.

Jadi, jika kita ingin me-leverage diri kita, buatlah keputusan (decision). Yang berarti kita memutuskan untuk tidak ada kemungkinan yang lain. Seperti cerita seorang jenderal yang membakar kapalnya, supaya tentaranya termotivasi berperang. Tidak ada jalan lain kecuali bertempur sepenuh hati, karena kapalnya sudah dibakar. Pilihannya adalah maju berperang dan menang, atau mati. Sang tentara tidak bisa pulang lagi karena di belakangnya cuma ada laut, dan kapalnya sudah menjadi abu.

It Takes Time to Succeed

Setelah kegagalan demi kegagalan di masa awal. Setelah pengalaman yang menya kitkan di 3 - 4 tahun pertama, ternyata kemudian bisnis saya mulai tumbuh. Finally, I see the light at the end of the tunnel. Untungnya saya tidak menyerah!

Bapak/Ibu sekalian, membangun bisnis membutuhkan waktu. Sama seperti menanam pohon. Hari ini ditanam, besok belum akan berbuah. Dan panen masih membutuhkan waktu lebih lama lagi. It takes time to succeed!

Saya berani mengatakan bahwa tidak ada instant success. Semuanya membutuhkan proses. Tukul bukan berhasil hanya gara-gara acaranya Empat Mata meledak. Tukul menjadi sukses karena bertahun-tahun berlatih dan tekun di profesinya. Tukul sukses karena bertahun-tahun tekun bersiap-siap. Acara Empat Mata adalah kesempatannya. Sukses adalah pertemuan antara persiapan dengan kesempatan.

Instant Success is twenty years in the making.

But, moral of the story adalah it takes time to succeed.Banyak orang yang gagal karena 'berhenti' dan tidak menyadari betapa dekatnya mereka dengan kesuksesan ketika mereka memutuskan untuk menyerah.

Terimakasih untuk Pak Armend atas sharingnya di milis TDA.