Menguasai Teknik Public Speaking: Tips dan Trik Dari Ahlinya



Pentingnya Berbicara di Depan Umum dalam Kehidupan Sehari-hari

Menjadi seorang pembicara yang baik di depan umum merupakan salah satu keterampilan yang sangat penting untuk dimiliki dalam kehidupan sehari-hari. Bisa digunakan untuk presentasi di kantor, memimpin rapat, memberikan pidato, atau bahkan hanya berbicara dengan teman dan keluarga.

Untuk membantu Anda memperkuat keterampilan public speaking, kami mengundang Anda untuk mengikuti webinar kami yang akan diadakan pada tanggal 15 Februari pukul 19.00 WIB. Dalam webinar ini, Anda akan belajar bagaimana mengatasi ketakutan berbicara di depan umum, memahami pola pikir, serta meningkatkan kepercayaan diri dalam berbicara, dilengkapi dengan praktek langsung dan game menarik.

Tidak hanya itu, Anda juga akan otomatis tercatat menjadi anggota Komunitas Pengembangan dan Optimalisasi Diri (KPOP.diri) yang nantinya akan banyak kegiatan pengembangan diri bagi para anggotanya secar GRATIS. Webinar ini sangat cocok bagi Anda yang ingin meningkatkan kemampuan public speaking atau mempelajari cara berbicara dengan lebih efektif di depan umum, dan memperluas cakrawala berpikir dalam hal pengembangan diri.

Ayo daftarkan diri Anda sekarang via link PENDAFTARAN ini dan dapatkan kesempatan untuk meningkatkan keterampilan public speaking Anda! Kami tunggu kehadiran Anda

Gimana Cara Mempersiapkan Presentasi yang Baik?


Pernah ga kalian mengikuti presentasi baik di sekolah, seminar, maupun di tempat kerja dan merasa bosen? atau sebaliknya kalian mendapat pengalaman yang luar biasa dari presentasi yang kalian ikuti?

Nah sebenarnya secara external hal itu dipengaruhi oleh performance dan pemaparan materi oleh si pembicaranya sedangkan secara internal dipengaruhi oleh butuh atau tidaknya kita terhadap materi presentasi tersebut.

Jika kalian menjadi narasumber maka penting banget bagi kalian untuk mengetahui audiens, baik itu umur, pekerjaan, bahkan jabatan supaya materi yang kalian paparkan benar-benar memberikan impact dan kesan yang mendalam bagi audiens.

Baca Juga : Jangan Menyerah Walaupun PPKM

Selain itu hal penting lainnya adalah selalu biasakan untuk membuat materi presentasi di slide sesederhana mungkin... ya sesederhana mungkin, kurangi tulisan karena seyogyanya slide itu berfungsi untuk membantu kalian dalam mendeliver presentasi supaya lebih jelas, jadi konteks nya bukan baca slide ya namun slide 'membantu' penyampaian presentasi. Ini yang kadang terbalik.

Performance dan tampilan dari pembicara juga menjadi hal penting lainnya gaes, saya pribadi kalau menghadiri suatu presentasi biasanya yang pertama saya perhatikan adalah kostum/tampilan si pembicara, jadi kaya 'first impression' gt deh ya, setelahnya baru deh gimana pemaparan materi dll.

Untuk lengkapnya mengenai apa aja sih yang perlu diperhatikan seorang pembicara sebelum melakukan presentasi saya coba buat rekapnya di video Youtube berikut ini, mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi kalian yang sedang mempersiapkan diri untuk presentasi baik offline maupun online, cekidot!


Bicara Bandung Bukan Cuma Kuliner

 



Saya lahir dan tumbuh di Jawa Barat,  namun semenjak kakak-kakak saya lulus kuliah jarang banget saya jalan ke Bandung,  hanya sesekali saja,  bahkan saya memilih kuliah di  Purwokerto dibanding mencari kampus di bandung. Namun Bandung tetaplah Bandung, kota yang selalu saya rindukan untuk berlibur dan mencicipi kuliner khasnya yang mengundang selera.

Justru setelah menikah dan hidup di Depok,  saya dan istri lebih sering berkunjung ke Bandung. Selain karena istri dulu kuliah di Bandung, alasan lainnya adalah banyaknya lokasi di Bandung yang seru untuk dikunjungi.

Namun selain kuliner dan tempat wisata, Bandung juga ternyata memiliki buanyak sekolah dan pesantren yang tersebar di berbagai wilayah, salah satu pesantren yang sempat saya kunjungi adalah Pesantren Tahfidz Roudhotul Qur'an.

Pesantren ini unik sih menurut saya, selain karena lokasinya yang berada di kawasan perumahan juga karena pesantren ini mempunyai program 2 tahun hafal Al-Qur'an. Oya pesantren ini adalah pesantren khusus untuk Akhwat / perempuan yang sudah berdiri dari tahun 2018 dan di 2021 sedang proses di meluluskan angkatan ke-2

Terus terang saya salut dengan para penghafal Qur'an karena perlu dedikasi tinggi untuk bisa menghafalkan ayat demi ayat hingga selesai 30 Juz, engga sembarangan orang mampu melakukannya, wong menghafalkan 1 atau 2 surat di Juz 30 aja tidaklah mudah.

Mungkin bagi kalian yang membaca blog ini dan berminat untuk menjadikan anaknya seorang Hafidzah saya kira Pesantren Roudhotul Qur'an ini bisa menjadi salah satu referensi.

Cerita lengkap terkait Pesantren Tahfidz Roudhotul Qur'an ini dan bagaimana para santriwati ini mampu menghafalkan Al-Qur'an hanya dalam jangka waktu 2 tahun, saya tuangkan di channel Youtube Mister Andi berikut ini.

 

Membentuk generasi Qur'ani yang berkualitas adalah tanggung jawab kita, bagaimana estafet untuk menjaga kemurnian Al-Qur'an ada di pundak kita sebagai seorang muslim, setidaknya kita mulai dari lingkungan terdekat yaitu keluarga kita. Dekatkan anak-anak kita dengan Al-Qur'an sehingga kelak mereka dewasa, nilai-nilai Qur'ani akan melekat kuat dalam jiwa mereka.

Jangan Menyerah Walaupun PPKM Level 4




Beberapa waktu lalu saya sempat sharing diary lockdown dan diantara hal yang saya lakukan dalam mengisi kegiatan di rumah adalah membuat video public speaking yang reguler saya post di Youtube.

Alhamdulillah jadi bisa mengamalkan ilmu yang juga dipelajari ketika pandemi ini mulai terjadi di awal 2020 kemarin.

Nah ketika ada info bahwa PPKM diperpanjang dan berganti slogan menjadi PPKM level 4 (jadi inget tingkat kepedasan suatu produk) saya sudah memproduksi 21 video mengenai Public Speaking, Motivasi, dan Podcast.

By the way kalian tahu engga maksud leveling PPKM ini? saya coba summary kan ya (info saya ambil dari web CNBC Indonesia)

Level 1 (Insiden Rendah)

  • Angka kasus konfirmasi positif Covid-19 kurang dari 20 orang per 100 ribu penduduk per minggu.
  • Kejadian rawat inap di rumah sakit kurang dari lima orang per 100 ribu penduduk.
  • Angka kematian kurang dari satu orang per 100 ribu penduduk di daerah tersebut.

Level 2 (Insiden Sedang)
  • Angka kasus konfirmasi positif Covid-19 antara 20 dan kurang dari 50 orang per 100 ribu penduduk per minggu.
  • Kejadian rawat inap di rumah sakit antara lima dan kurang dari 10 orang per 100 ribu penduduk per minggu.
  • Angka kematian akibat Covid-19 kurang dari dua orang per 100 ribu penduduk di daerah tersebut.

Level 3 (Insiden Tinggi)
  • Angka kasus konfirmasi positif Covid-19 antara 50-100 orang per 100 ribu penduduk per minggu.
  • Kejadian rawat inap di rumah sakit 10-30 orang per 100 ribu penduduk per minggu.
  • Angka kematian akibat Covid-19 antara dua sampai lima orang per 100 ribu penduduk di daerah tersebut.

Level 4 (Insiden Sangat Tinggi)
  • Angka kasus konfirmasi positif Covid-19 lebih dari 150 orang per 100 ribu penduduk per minggu.
  • Kejadian rawat inap di rumah sakit lebih dari 30 orang per 100 ribu penduduk per minggu.
  • Angka kematian akibat Covid-19 lebih dari lima orang per 100 ribu penduduk di daerah tersebut.

Well, apapun yang terjadi, semua itu tidak boleh membunuh kreatifitas kita ya gaes, lebih baik dipakai untuk melakukan hal yang bermanfaat bagi sesama.

Nah di episode perdana, saya membuat video mengenai teknik opening dalam suatu acara. Teknik yang saya ajarkan juga sederhana menyesuaikan dengan konteks acara yang sedang dihadapi dengan urutan yang mudah untuk dipraktekan oleh teman-teman yang baru belajar pertama kali sekalipun.

Disini saya bagi menjadi 3 teknik opening yaitu :
1. Cara konvensional
2. Religius konvensional
3. Story telling

Penasaran seperti apa penjelasan detail mengenai teknik openingnya? langsung aja gaes cekidot di Channel Youtube Mister Andi

Lebaran Dikala Pandemi


Lebaran 1442 masih dalam keadaan pandemi, mudik masih dilarang dengan banyak penyekatan bagi yg ‘bandel’ mudik tahun ini. Namun Lebaran ya tetap Lebaran gaes, ga peduli masa pendemi atau engga, nuansa lebaran tetap syahdu dengan berbagai moment dan hikmah penting disetiap perjalanannya.

Alunan takbir tetap masuk ke relung hati, merayakan kemenangan sekaligus kesedihan berpisah dengan Ramadhan mulia. Target khataman yang tak tercapai karena hanya mampu berlari sampai Juz 25, serta 12 episode podcast #pejuangkebaikan yang mentok di episode ke 8 adalah salah satu hal yang menjadi catatan penting saya di Ramadhan kemarin.

Dengerin podcastnya disini yuk Podcast Motivasi Bisnis

Namun Lebaran tahun ini adalah berkah bagi kebersamaan keluarga besar kami, yang kita kira akan terasa berat dan hambar ternyata malah penuh senyum bahagia, yang kita kira akan terasa monoton ternyata malah penuh warna.

Sungging senyum di wajah Papa Mama adalah kebahagiaan kami, jawaban atas doa-doa yang dipanjatkan keduanya untuk kebersamaan solid keluarga besar kami. Sungguh Alloh lah pembuat rencana terbaik, manusia hanya bisa mengira-ngira namun ketentuanNya lah yang akan datang kepada kita, karenanya sungguh akan tersiksa hatinya bagi orang yang tidak memahami konsep takdir. Manusia hanya diwajibkan berikhtiar sebaik mungkin, dan serahkan hasil akhirnya kepada Alloh SWT.

Baca Juga Diary Lockdown #01

Jadi hari pertama Lebaran kita habiskan untuk berinteraksi dengan keluarga inti, Alhamdulilah bisa Shalat Ied di Masjid setelah tahun lalu menjadi Imam dan Khatib dadakan di rumah gara-gara pelarangan Shalat Ied berjamaah di masjid. Saling memaafkan adalah keharusan, makan opor dan rendang serta ketupat seperti layaknya Lebaran di waktu normal sebelum pandemi, hanya bagi-bagi angpao kepada para bocah aja yang agak hilang, karena tidak ada moment kumpul bareng seluruh keluarga, tapi ya Biya Basel happy-happy aja sih hahaha.

Alhamdulillah juga adik papa rumahnya satu komplek jadi bisa silaturahim dan video call dengan saudara-saudara dari Medan yang saya belum pernah bertemu langsung, karena keluarga kami multikultur jadi seru, banyak variasi daerah mulai dari Sunda, Jawa, dan Medan. Pokoknya Indonesia banget deh.

Hari ke-2 kita rencana jalan tipis-tipis aja ke daerah bogor...... ceritanya nanti di post terpisah ya biar kalian ga kepanjangan bacanya.

Oya Taqobalallohu minna wa minkum ya teman-teman semua, mohon maaf lahir dan batin dari kami sekeluarga, semoga pandemi ini segera berakhir ya. Salam

Diary Lockdown #1



Sudah hampir sebulan kami sekeluarga #dirumahaja efek pandemi covid-19, terus kudu piye....?

Ini adalah tulisan random isinya hal-hal menarik di masa pandemi, ada aja kegiatan mengisi waktu di rumah bersama keluarga, ada juga info random diluar kegiatan keluarga.

21 April 2020
Ordinary day di new normal ketika masih harus di rumah, mengerjakan tugas kantor dari rumah masih berlanjut.

Namun yang membuat hari ini beda adalah berita dari lingkungan yang memberitakan terjadi pembegalan di pintu masuk perumahan kami sekitar pukul 22.40 WIB. Alhamdulillah korban masih bisa selamat karena keburu lari dan berteriak ke arah pos satpam terdekat. Satpam yang siaga kemudian mengejar pelaku sambil mengacungkan golok, walhasil pelaku kabur tunggang langgang.

Mungkinkah ini efek bebasnya para penjahat dari sel tahanan beberapa waktu lalu?

Entahlah, namun kejahatan sepertinya makin meningkat pasca kebijakan pemerintah membebaskan banyak narapidana beberapa waktu lalu.

Jadi semakin was-was dengan keadaan sekarang, ditengah pandemi yang masih mewabah ditambah kejahatan yang makin sering terdengar.

24 April 2020
First Day Ramadhan di tengah pandemi covid-19, adalah Ramadhan yang tidak biasa. Tidak ada ‘munggahan’ bersama keluarga besar, tidak ada tarawih di masjid. Sedih sebenarnya, namun harus bisa diterima dengan lapang dada demi kebaikan bersama.

18 Mei 2020
10 hari terakhir Ramadhan, ga terasa udah mau selesai aja nih bulan puasa. Catatan menarik hari ini adalah bagaimana antusiasnya istri saya mencukur rambut saya dan Basel menggunakan alat cukur yang baru kami beli.

Berbekal tutorial dari YouTube jadilah salon dadakan hari ini, hasilnya?

Not bad lah ya for newbie :)

19 Mei 2020
Hari ini planning sebenarnya padat merayap, mulai dari mau ke bank sampai ambil mobil di rumah mertua di Ciputat. 

Keluar rumah seperti ini kalau ga penting-penting amat sebenarnya males, selain menghindari kontak dan khawatir terpapar virus covid19 juga karena begitu panasnya cuaca di hari ini padahal sudah pukul 14.30. 


Namun yang amazing banget adalah ternyata jalanan ramai layaknya hari normal, diwarnai beberapa titik macet dan kerumunan orang disana sini yang sebagian tidak memakai masker. Lengkap banget dengan suasana panas menyengat hari ini

Seperti ga PSBB lho, selaras dengan nyanyian Rap “terserah...terserah” dan naiknya trending topik #IndonesiaTerserah

Kapan mau berakhir pandemi nya kalau kaya gini...

21 Mei 2020
Ada ide kreatif dari istri untuk cat rambut..... 

What?

Seumur umur ga pernah dan ga pede cat rambut lho saya, padahal dulu waktu kuliah di Unsoed dan sering manggung dari kampus ke kampus sempet kepikiran, tapi ya itu tadi merasa ga pede aja. Dulu malah milih untuk di kepang kecil-kecil aja, yg di cat malah temen saya yang pegang Bass.

Well selalu ada pertama kali untuk sesuatu yang baru, dan sepertinya saatnya tepat untuk berani cat rambut mengingat kegiatan #dirumahaja dan #workfromhome jadi ya Bismillah aja dicoba, karena yang jadi ‘salon’ nya juga istri sah ya bukan kaleng-kaleng 😂


Btw sebelumnya saya dan Basel sudah menjadi bahan experimen juga untuk potong rambut lho pake alat barbershop, amazing

Tar lanjut di Diary Lockdown #2 ya ceritanya .....


(Belum) Siap Normal

 


Akhir 2019 kita dikejutkan oleh berita sensasional mengenai merebaknya satu virus mematikan dengan penyebaran yang sangat cepat secara global ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Corona Virus Disease 2019 atau lebih dikenal dengan Covid-19. Indonesia terbilang lambat dalam mengantisipasi virus ini, dengan berbagai keyakinan dari pemerintah waktu itu bahwa virus ini tidak akan masuk ke Indonesia sampai dengan berita mengenai sembuhnya 2 pasien pertama covid-19 dengan perantara minum jamu menghiasi tayangan berita di hampir semua stasiun TV. Berita yang terbilang mengejutkan ditengah masih sibuknya dunia dalam mencari anti virus atau obat penyembuh virus Covid-19. Sampai sekarang berita penyembuhan dengan jamu tersebut masih menjadi misteri.

Ketika akhirnya Indonesia harus menerima kenyataan pahit bahwa ternyata Covid-19 bisa melenggang masuk dan menjangkiti banyak masyarakat Indoensia dari mulai gejala ringan sampai meninggal dunia, maka kehidupan masyarakat dipaksa berubah. Memakai masker kemanapun pergi, sering mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak dan menghindari kerumunan, sampai regulasi work from home (WFH) dan School from home pun diberlakukan untuk menghindari bertambahnya korban pandemic Covid-19. Semua harus menjadi normal di suasana yang tidak normal.

Pertanyaannya adalah sudah siapkah masyarakat Indonesia melakukan transisi menuju new normal?

Mengapa Pertanyaan itu muncul? Karena penulis melihat perilaku masyarakat Indonesia itu sendiri yang agak mengkhawatirkan. Seperti Ketika menjelang Iedul Fitri kemarin, pusat perbelanjaan hingga pedagang pinggir jalan masih ramai dipenuhi peminat untuk membeli baju maupun perlengkapan lebaran lainnya. Belum lagi pemakaian masker yang masih sembrono bahkan masih banyak masyarakat yang keluar rumah tanpa memakai masker. Dan dengan mulai diberlakukannya masa transisi menuju new normal, kecemasan akan hadirnya ‘second wave’ masih menghantui kehidupan masyarakat Indonesia.

Data lapangan berbicara bahwa Indonesia masih harus berjuang keras untuk bisa lepas dari jeratan virus corona, Bapak Achmad Yurianto selaku juru bicara pemerintah terkait penanganan corona, dalam update corona yang disiarkan akun youtube BNPB pada selasa 30 juni 2020 seperti dilansir detiknews menyebutkan bahwa per tanggal 30 Juni 2020 ada 43.797 ODP dan 13.182 PDP di Indonesia. Angka tersebut masih bisa terus naik mengingat belum meratanya test masal yang dilakukan di seluruh Nusantara.

Bahkan hal tersebut diperparah dengan ketidakdisiplinan masyarakat itu sendiri. Hasanuddin Ali, CEO Alvara Research Center dalam keterangan tertulisnya yang dimuat di infobrand (dot) id mengatakan bahwa public menilai tingkat kedisiplinan dan partisipasi warga sekitar dalam menjalankan social/physical distancing di lingkungan mereka cukup rendah. Dari hasil survey Alvara disebutkan bahwa hanya 8,3% menilai semuanya benar benar patuh, 38,7% menilai Sebagian kecil mengikuti, 50,2% menilai Sebagian besar tidak mengikuti; dan 2,6% menilai tidak ada yang mengikuti, serta 0.2% menjawab tidak tahu. Sebuah data hasil survey yang miris mengingat betapa berbahayanya penularan virus ini.

Jika kita berkaca pada negara lain yang sudah berhasil ataupun paling tidak mengurangi penularan virus ini secara signifikan maka akan kita temukan beberapa metode yang bisa kita coba. Sebagai contoh adalah negara tetangga kita Vietnam. Dikutip dari artikel dalam situs World Economic Forum, Vietnam meluncurkan sederet inisiatif untuk melawan penyebaran corona pada 1 Februari 2020. Seluruh penerbangan dari dan menuju Tiongkok disetop, sekolah ditutup setelah libur tahun baru Tiongkok. Dua minggu kemudian karantina diberlakukan di provinsi Vinch Phuc sebelah utara Hanoi, selanjutnya Vietnam memberlakukan karantina selama 14 hari untuk siapapun yang baru tiba di Vietnam dan menyetop seluruh penerbangan internasional. Kunci penanganan corona di Vietnam bukanlah dengan tes masal seperti di Korea Selatan, melainkan dengan respon cepat dan Kontrol pemerintah.

Baca Juga : Menyerah atau Bangkit

Kesiapan Pemerintah dalam menghadapai New Normal yang terbilang lambat perlu diakselerasi, setidaknya ada beberapa poin yang menurut penulis perlu diperhatikan. Yang pertama adalah biaya Rapid Test dan SWAB test yang masih terbilang mahal untuk kalangan masyarakat bawah, alangkah baiknya jika ada kebijakan dari Pemerintah pusat yang membuat biaya tersebut menjadi terjangkau atau malah gratis bagi masyarakat. Selanjutnya adalah mengenai kebijakan transportasi umum, jika di DKI Jakarta dengan Transjakarta nya yang sudah menerapkan secara konsisten masalah physical distancing bagaimana dengan angkot? Apakah sudah ada regulasinya? Apakah para sopir angkot itu rela jumlah penumpangnya berkurang setengahnya karena harus duduk berjarak? Jika melihat realitas di lapangan, penulis masih sering melihat angkot yang penuh dan tanpa tanda (x) di tempat duduk penumpang. Hal penting lainnya adalah pasar tradisional dan mall, Ketika tulisan ini dibuat (01/07/2020) penulis baru mendengar kabar bahwa pedagang di pasar Mede yang notabede warga Kebayoran Lama positif covid. Menyikapi hal tersebut, apakah ada regulasi untuk pasar tradisional dan mall? jikapun ada apakah bisa dilakukan dengan disiplin dan konsisten oleh para penegak hukum? Sehingga penyebaran bisa diminimalisir. Selanjutnya adalah dunia Pendidikan, Sudahkah ada antisipasi jika nanti anak sekolah mulai masuk? Mengingat akan massive nya hilir mudik para pelajar dari mulai TK sampai Universitas, kondisi di jalan kemudian bagaimana interaksi siswa di sekolah. Sudahkah ada rencana yang efektif supaya penyebaran virus ini tidak meluas dengan perantara para siswa?.

Dari sisi masyarakat pada umumnya, penulis melihat justru beberapa waktu belakangan Ketika PSBB mulai dicabut masyarakat mulai lebih santai menyikapi pandemi ini, ditandai dengan keramaian yang makin meningkat di jalan maupun di tempat umum, mulai masuknya para pekerja kantoran walaupun belum semuanya, kegiatan masyarakat semisal di lingkungan RT mulai Kembali ramai dengan aktivitasnya. Fenomena ini bisa berarti baik maupun buruk, tergantung bagaimana kita melihatnya, bisa dimaklumi masyarakat yang mulai bosan dengan kegiatan di rumah yang belum jelas kapan berakhir, bisa juga sudah merasa masa bodoh dengan pandemic, atau malah ada yang skeptis dan lebih memilih ide konspirasi sebagai jalan keluar.

Dari pemaparan diatas penulis berkesimpulan bahwa sebetulnya kita belum siap menghadapi new normal, dari aspek regulasi hingga kesadaran masyarakat itu sendiri. Masih banyak PR bagi kita supaya negara ini bisa segera terbebas dari pandemic ini. Sebagai seorang individu dari masyarakat, penulis hanya bisa menghimbau untuk tetap berdisiplin menjaga diri, setidaknya dengan selalu memakai masker kemanapun pergi dan rajin mencuci tangan dengan sabun kapanpun dan dimanapun, karena sekarang kita tidak boleh tergantung pada siapapun, lebih baik bersikap mandiri dan bertanggung jawab menjaga diri serta keluarga terdekat dari ancaman virus ini. Untuk Pemerintah penulis berharap jangan sungkan untuk meniru metode nagara lain yang sudah berhasil, bergeraklah cepat karena rakyat sudah menunggu teralu lama dalam ketidakpastian. Satu yang pasti adalah masyarakat tidak mau menjadi korban HERD immunity… tidak mau!

Penulis : Andi Garmadi

 

Menyerah atau Bangkit ?


Tidak mudah memulai suatu langkah, sungguh banyak rintangan yang menghadang. Perlu perjuangan tinggi melintasi badai supaya bisa survive, terluka ya, terjatuh sudah pasti, namun ada pengharapan di depan yang selalu membuat kita bangkit kembali.

Rencana manusia pastilah ‘tak sempurna’. Begitu banyak hal dalam pikiran yang direncanakan namun dalam kenyataannya hanya rencana Tuhan yang paling sempurna.

Seperti yang pernah saya alami tahun-tahun awal mulai menapaki dunia kerja. Sunguh jika bukan karena takdir Alloh SWT, mungkin saya tidak akan berada di dunia yang sekarang saya geluti.

Berbicara perjalanan hidup, rasanya tidak akan lepas dari kontribusi kakak saya (alm) Ikin Ahmad Sodikin. Saya menyebutnya ‘Fase 2’ kehidupan yang saya jalani. Fase dimana saya harus kehilangan orang tua dalam kurun waktu 2 tahun berturut-turut, dimana kebimbangan dan kesedihan layaknya awan tebal yang menutupi pandangan mata. Di Fase 2 inilah Ang Ikin, begitu saya menyebutnya, mengulurkan tangan dan secara perlahan mengajak saya melewati awan tebal kehidupan.

Sebagai anak bungsu dari 6 bersaudara, tidaklah mudah mengubah paradigma befikir seorang anak yang terbiasa ‘disuapi’ menjadi anak yang mandiri secara penuh. Fase 2 adalah Fase kesedihan, Fase perjuangan, Fase transformasi dalam kehidupan saya.

Dimulai dengan mengambil keputusan untuk hijrah ke Bogor, berhenti kuliah dari Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto dan melanjutkan studi di Universitas Terbuka (UT). UT seyogyanya tidaklah terlalu asing bagi saya karena Ang Aos, kakak pertama saya juga alumni UT dengan jurusan yang sama.

Selain kuliah di UT saya mulai menapaki dunia kerja di bengkel Ang Ikin yang baru dirintisnya di daerah Parung Bogor. Inilah langkah pertama saya dalam memasuki dunia kerja.
Dunia saya mendadak terbalik 180 derajat, perlu adaptasi ? pasti, namun harus dalam waktu sesingkat mungkin. Tidak banyak waktu bagi saya untuk meratap dan mencari alasan, hanya ada dua pilihan, menyerah atau bangkit.

Saya memilih bangkit.

Menata kembali rencana masa depan yang berserak, membangun kembali semangat yang sempat pudar, dan mulai menyusun kembali impian yang sempat hilang. Tekad saya ketika itu adalah “Saya harus merubah energy negative ini menjadi energy positif yang membangun”

Masih terbayang jalur jalan berkelok via Puncak menuju Parung, pandangan nanar setengah hampa melengkapi perjalanan saya di Bus yang sesekali teralihkan oleh hijaunya pohon teh sepanjang jalur puncak serta hembusan angin segar yang mengelus lembut.

Dan dari sepetak tanah bengkel di Parung, harapan kembali dimunculkan, tidak mudah dan banyak rintangan pastinya, namun saya bertekad untuk buktikan bahwa saya bisa bangkit dari keterpurukan, mampu untuk mandiri secara psikologis dan ekonomi. Dan Ang Ikin selalu menjadi api penyemangat, sekaligus selimut tempat berlindung bagi saya di fase ini  (semoga semua kebaikan beliau menjadi ladang pahala yang tidak putus aamiin)

Hidup adalah pilihan, begitu menurut orang-orang bijak terdahulu. Menjadi A atau menjadi B di hari ini ditentukan oleh keputusan kita di masa lalu. Ketika hidup memberi kita tantangan, maka disitu pasti ada pilihan, kita dituntut untuk berani ambil keputusan yang harus dipertanggung jawabkan tanpa keluhan. Berani mengambil keputusan adalah tanda kedewasaan, setidaknya itulah yang saya pelajari dari kedua orang tua dan kakak-kakak saya.

Kamu tidak bisa memaki takdir yang telah kamu pilih sendiri, jalani dan bertanggung jawab. Beranilah dalam menantang gelombang, bukankah kapal berlayar dengan menantng angin?

AMG 2020

Koperasi Zaman Now Dalam Persaingan Digital


Apa yang ada di benak kalian ketika mendengar kata “Koperasi” ?

Yang saya ingat adalah koperasi waktu sekolah adalah ruangannya kecil, bisa simpan pinjam, dan menggunakan sistem yang sederhana. Dulu sering banget beli keperluan sekolah di koperasi semisal buku dan peralatan tulis, dan bagi guru-guru, koperasi menjadi tempat untuk meminjam uang dengan proses yang sederhana, sangat membantu. Tidak heran koperasi dijuluki “soko guru” atau tulang punggung perekonomian nasional.

Well, tidak hanya koperasi sekolah, koperasi juga akrab dengan keluarga kami dalam bentuk simpan pinjam yang datang ke rumah-rumah / "door to door system". Kami di daerah sudah terbiasa dengan orang-orang yang datang untuk memungut uang pinjaman secara harian.

Berjalannya waktu, koperasi seperti tenggelam oleh waktu, fintech menjamur seiring berkembangnya teknologi 4.0 di Indonesia. Koperasi seperti terlupakan dan berjalan di tempat, entahlah mungkin era inovasi disruptif ini sangat berpengaruh bagi milenial sekarang.

Apa yang terjadi sebenarnya ?

Secara sederhana, jawabannya adalah “Sistem TI yang ketinggalan”

Jika kita kupas lebih dalam lagi, beberapa tantangan yang harus dihadapi oleh koperasi pertama adalah bagaimana membangun infrastruktur TI dengan biaya investasi yang terjangkau, kemudian bagaimana memanfaatkan teknologi handphone dan internet untuk memperluas jangkauan layanan dan meningkatkan kualitas layanan, serta bagaimana memanfaatkan teknologi TI yang canggih tanpa harus memikirkan kemampuan SDM yang dimiliki koperasi, dalam kata lain Koperasi tidak perlu membayar mahal hanya untuk menggaji SDM.


Hal yang menarik lainnya adalah pertumbuhan UMKM atau Start Up semakin menjamur lho di Indonesia, nah sektor ini bisa menjadi target market dari Koperasi untuk bisa eksis. Namun koperasi harus bertransformasi dulu dong ya menjadi koperasi zaman now untuk merebut hati para milenial.

Ada beberapa data menarik berkenaan dengan pertumbuhan UMKM dan aktivitas digital berikut.

Menurut data yang dirilis McKensey and Company, ekonomi Indonesia akan terdongkrak sebesar 10% melalui aktivitas digital pada 2025*


Delloite‎ Access Economics, menunjukkan lebih dari sepertiga UMKM di Indonesia atau 36% masih bersifat offline dan sepertiga lainnya atau 37% hanya memiliki kemampuan online yang sangat mendasar seperti komputer atau akses broadband*

Data dari McKinsey Global Institute menyebutkan 18% yang memiliki kemampuan online menengah yaitu menggunakan web atau media sosial, 9%  pelaku UMKM yang sudah memiliki kemampuan bisnis online lanjutan dengan kemampuan e-commerce, dan hanya 5% UKM yang sudah mampu bertransaksi online*

UMKM tersebut membutuhkan dukungan layanan keuangan, semisal permodalan untuk mengembangkan bisnisnya. Nah disinilah saya lihat celah untuk koperasi masuk dan menjadi alternatif bagi para pelaku UMKM melalui koperasi digital.

Mengapa harus koperasi ?

Pertama karena industri perbankan nasional masih mempunyai kendala untuk memenuhi kebutuhan modal UMKM, bisa jadi persyaratan yang rumit yang biasanya belum bisa dipenuhi oleh para pelaku UMKM, alasan kedua adalah karena koperasi menjangkau wilayah hampir seluruh Nusantara. Koperasi dapat dengan mudah menyalurkan kredit bagi UMKM di pelosok daerah terpencil.

Transaksi juga menjadi opsi yang harus diperhatikan oleh koperasi, dengan smartphone ditangan, milenial mengharapkan semua solusi bisa dilakukan via handphone, semisal beli pulsa, pembayaran tagihan listrik, dan transfer uang.

Lalu teknologi seperti apa yang harus diadopsi oleh koperasi ?

Apa yang harus Koperasi Zaman Now lakukan ?

Dengan perkembangan teknologi, Koperasi harus segera beradaptasi dengan perkembangn tersebut dengan tetap memperhitungkan kemampuan. Untunglah sekarang sudah tersedia teknologi dengan sistem pay-per-use alias hanya membayar resource yang digunakan atau bahasa kerennya biasa disebut dengan OPEX.

Teknologi Komputasi awan bisa menjadi pilihan bagi koperasi untuk bertransformasi di era digital karena teknologi komputasi awan ini lebih ekonomis dan terjangkau karena memakai sistem sewa. Contoh nyata yang bisa dicoba adalah dengan membuat solusi digital terpadu khusus untuk koperasi, dengan mengadopsi core banking. Contoh core banking yang bisa diadopsi adalah pinjaman digital, tabungan digital, dan berbagai pembayaran yang bisa diakses via smartphone berbasis android, IOS, dan PC windows.

Credit Scoring juga bisa menjadi pilihan lain untuk koperasi simpan pinjam, yang akan mengotomatisasi seluruh proses pemberian pinjaman mulai dari "origination" hingga "reporting". Dengan sistem ini maka akurasi persetujuan pemberian pinjaman akan semakin meningkat, sehingga pelayanan kepada customer koperasi pun bisa semakin cepat dan canggih. Layanan credit scoring juga akan lebih maksimal jika digabungkan dengan sistem arsip dan ruang penyimpanan data secara digital yang menerapkan keamanan tinggi.


Pelayanan juga harus menjadi perhatian dong, apalagi sekarang hampir seluruh elemen masyarakat menggunakan sosial media, jika pelayanan kurang memuaskan bisa jadi customer akan "berkicau" di sosial media dan menjadi nilai negatif bagi suatu brand/perusahaan. Demikian juga dengan koperasi, pelayanan atau customer service juga perlu di upgrade. Saya menemukan teknologi yang mungkin bisa diadopsi oleh koperasi untuk meningkatkan layanan dalam berinteraksi dengan customer via verbal, gambar, maupun text.

Pelanggan / anggota koperasi bisa berinteraksi langsung via smarphone berbasis android dengan agen / petugas koperasi. Mereka bisa bertanya mengenai produk dan layanan dari koperasi secara online. Dengan demikian akan terjalin komunikasi dua arah yang efektif dan meningkatkan kepercayaan pelanggan dari koperasi itu sendiri.

Koperasi mempunyai kesempatan untuk bersaing di era digital, kembali menjadi soko guru yang diperhitungkan dalam perekonomian nasional dengan syarat bahwa koperasi harus mau bertransformasi, mengikuti perkembangan teknologi, karena koperasi mempunyai modal untuk itu. Saya yakin, koperasi akan menjadi solusi bagi start up ataupun UMKM untuk bersaing di era digital.

*Research McKensey and Company dan Delloite‎ Access Economics
*Data Grafis, indonesia.go.id dan sumber lainnya
*Desain Grafis, Karya penulis

Menikmati Liburan Keluarga Sambil Kerja di Taman Herbal Insani Depok


"Bi jalan yuk, masa liburan ga kemana-mana" kata istri saya beberapa waktu yang lalu. Iya juga sih, liburan anak anak sekolah ini belum jalan yang khusus untuk berlibur sebenarnya.

"Kemana say?" Tanya saya

"Ada tempat bagus say namanya Taman Herbal Insani" lanjut istri saya, "jaraknya juga deket dari Sawangan" lanjut nya menguatkan

Well emang bagus ya? Gumam saya dalam hati, "yaudah besok kita kesana deh" jawab saya

Der...der... Hape saya bergetar, saya cek ada pesan masuk dan saya tertegun membacanya.

"Ada apa sih say, kok malah diem?" Tanya istri saya

"Ini ada tugas dadakan yang mesti aku selesain besok sebelum jam 5 sore" jawab saya lirih, khawatir buat dia kecewa.

"Boleh ga kesananya aku bawa laptop? Biar bisa sekalian beresin, malam ini aku kerjain sebagian biar besok ga terlalu banyak" pintaku

Alhamdulillah istri sholehah ga keberatan, jadilah saya siapkan perlengkapan perang kedalam tas.

Taman Herbal Insani letaknya ada di sekitaran pengasinan Depok, kalau orang Depok mau ke Bogor biasanya lewat sini buat menghindari macetnya pasar Parung. Sebelum pertigaan Bojongsari ada pertigaan arah pengasinan, ada pak ogah yang sibuk nyebrangin orang sebagai patokannya hahaha. Ikuti aja terus jalannya sampai nani ada pertigaan tugu batu, kalian ambil kanan. Ikuti terus jalannya kalian akan menemukan petunjuk arah menuju lokasi.

Naik motor apa mobil ? Tenang aja akses bisa mobil atau motor, cuma jalannya ga terlalu lebar ya. Petunjuk jalannya pun jelas, ada dipasang dimana mana biar ga pada nyasar kali ya.

Sampai lokasi kami agak pesimis sebenarnya, soalnya ga keliatan sama sekali area masuknya.

"Masuk aja pak, agak kedalam nanti ada parkiran" kata seseorang yang saya tebak adalah tukang parkir

Masuklah kita, eh malah masuk area penduduk perkampungan, tapi ada banyak motor terparkir, yaudahlah parkir aja disini batin saya, kebetulan pula ada ibu-ibu mendekat sambil ngasih kertas ajaib tanda parkir..... hmmm seriously ?

Berhubung baru pertama kali kami coba aja peraturan yang ada, selepas parkir kami jalan menelusuri jalan setapak perkampungan gitu, mulai khawatir juga ini tempat ada apa engga sih ? gimana mobil bisa masuk ? batin saya makin penasaran.

Setelah berjalan sekitar 5 menit, kami terpana dengan area luas Taman Herbal Insani, Gerbangnya etnik dari bambu, parkiran juga luas, ternyata mobil bisa melewati jalur lain dengan akses langsung menuju gerbang utama. Motor bisa lalui jalur jalan setapak perkampungan seperti kami atau bisa jalur besar juga, terserah saja soalnya ga jauh juga kok dari parkiran motor kami di parkiran halaman rumah ibu-ibu tadi.

Alamat :  Jl. Kp. Kondang No.26, Kelurahan Duren Seribu, Kecamtatan Bojongsari. Intinya, lokasinya hampir di perbatasan Kota Depok dan Kabupaten Bogor

Yaudah lah ya, kita langsung menuju loket untuk membeli tiket 2 dewasa 2 anak. Harga tiketnya Rp. 20.000, cukup murah untuk area wisata yang dekat dengan rumah seperti ini.

Baca juga : Kunjungan kami ke Warung Misbar Bandung yang unik

Berhubung kami datang dikala masa liburan sekolah, kondisi Taman Herbal Insani pueenuh pol, plek tumplek ampe tumpe tumpe. Ya namanya juga peak seasson pasti Tempat wisata penuh, apalagi hari terakhir libur.

Kita muter muter cari spot buat gelar tiker, yang adem dan stategis. Oya kalau kita ga bawa tiker bisa kok sewa dilokasi, ada juga gazebo yang disewakan buat yang duitnya lebih, tapi ga tau juga sih sewanya berapa.




Gaes tempatnya Instagramable banget deh, banyak spot foto buat konten kalian posting di IG lho. Mulai dari spot kursi yang beraneka warna, spot foto dengan background danau, spot gua buatan, sampai spot sepeda tua juga ada. Luas juga memang wilayahnya, ada kolam renang, kolam arena bebek-bebekan, dan arena kuliner sudah pasti hadir dengan aneka ragam makanan. Langsung aja Biya Basel cekrek-cekrek didepan Iguana dan beberapa kura-kura yang sedang berpose.



Okelah setelah jalan sekitar dan nemu spot oke buat gelar tiker, langsung deh saya buka laptop untuk kejar dateline kerjaan, bocah dan istri ga lama langsung cuss aja menuju area permainan lain, seru aja mereka main becak-becakan, bebek-bebekan, sampai berenang di kolam renang yang tumpah ruah oleh banyaknya bocah yang nyemplung disana, entahlah mereka mau berenang atau cuma maen air doang soalnya penuh banget gaes.



Meanwhile saya mencoba konsentrasi untuk menyelesaikan agenda hari itu didepan layar laptop ditemani semilir angin dari pohon tempat saya menggelar tikar. Well, asyik juga mengerjakan tugas di luar ruang, lebih fresh dan lebih produktif.


Sambil menikmati cemilan yang disiapkan istri sholehah dari rumah, tak terasa jari ini menari diatas keyboard laptop dengan lincahnya, menuangkan ide sambil menikmati hilir mudik orang yang lalu lalang. Mungkin jika bukan masa liburan suasana bisa lebih kondusif lagi dalam menikmati suasana alamnya, ya tau sendiri kalau udah terlalu penuh oleh pengunjng kan kurang maksimal gitu loh santainya :)

Sebelum jam 5 sore, tugas dah selesai, baru sadar kalau sedari tadi saya belum foto-foto lho, saking serius dan fokusnya nyelesein tugas. Segera setelah para bocah selesai berenang barulah mulai beraksi untuk wefie bareng sebelum Taman Herbalnya Closing hari itu. Not bad lah sempet foto di spot danau dan jembatan, Biya Basel bahkan nambah foto di area rumput sintetis.



Masih banyak spot yang belum kita datengin, semisal area panahan, area tanaman herbal, area rumah saung dan taman kelinci. Next time kita explore lagi deh area yang belum terjamah, maklum liburan sambil ngerjain tugas seperti ini waktunya ga cukup buat kunjungi semua spot yang ada.

Yuk Ke Taman Herbal Insani lagi :) 


Berteriak Dalam Sepi


Baru sekarang saya beranikan diri untuk post tulisan blog ini, berat rasanya menulis ini, menceritakan kembali suatu cerita yang teramat saya rindukan. Cerita mengenai sosok panutan yang berpengaruh bagi hidup saya.

Saya menemukan detak cinta disetiap sudut rumah kami di Ciamis, asupan kasih sayang yang tak pernah habis dicurahkan kedua orang tua kami waktu itu.

Cerita mengenai orangtua kami adalah mutiara, hanya akan didapat jika masuk ke relung lautan hati yang dalam. Namun, kali ini saya ingin menulis tentang sosok pahlawan dalam diri Ikin Ahmad Sodikin, kakak sekaligus sosok idola bagi saya.


"Aku ingin menjadi seperti dirimu ang, pejuang arief bijaksana, penyayang pada keluarga dan sekitar" 

Kecintaanmu, baktimu kepada orangtua kerap membuat aku menangis jika mengingatnya. Pernah kamu membawa baskom berisi air, kamu cuci kaki 'ema', kamu cium kaki beliau dengan takzim sambil meminta doa dan keberkahan





Mungkin kamulah yang menjadi pengganti orang tua setelah ema bapak meninggal, aku ingat bisikanmu ke telinga ema sebelum beliau wafat "ma yang tenang, andi akan Ikin urus" kata kata yang membuat ema lega dan meninggalkan dunia fana ini dengan tenang.

Kamu tepati janjiimu, mengantarku sampai wisuda, memberi jalan pekerjaan, dan selalu ada ketika dibutuhkan. Ah sangatlah berhutang budi diri ini ang...



Saat ini aku sering merindukan pesan singkatmu untuk bertemu atau datang sepulang kantor sekedar bercerita dan berbagi ide, atau janjian kita untuk mudik bareng ke Ciamis ketika Lebaran tiba. Rasanya belum bisa hilang dalam ingatan.




Doaku selalu untukmu ang, doa terbaik bagi para penghuni syurga. Kebaikanmu menghantarkan senyum yang tersungging abadi dalam bibirmu setelah terucap kalimat tauhid hari itu. Really miss u, i really do....



Cinta Untuk New Zealand



Saya tulis ini dengan rasa cinta kepada saudara-saudara saya di New Zealand.

Kejadian hari Jumat kemarin menurut saya adalah bentuk terorisme nyata, bentuk rasisme tingkat tinggi akibat  kampanye rasis oleh pihak tertentu terhadap umat Islam. Apakah saya marah ? iya tentu saja saya marah, saya punya hak untuk marah atas kejadian yang menimpa saudara seiman saya, namanya ukhuah Islamiah, satu bagian badan sakit maka seluruh anggota badan merasakan sakit yang sama.  

Apakah dunia akan mengatakan ini aksi teroris ? saya tidak peduli, hati nurani saya sudah tidak peduli lagi terhadap apa yang akan dikatakan oleh media, baik luar maupun dalam negeri, begitu banyak aksi kekerasan terhadap umat Islam di seantero dunia, apakah pelaku disebut teroris ? TIDAK, karena itulah saya tidak peduli, yang saya pedulikan adalah rasa cinta dan kekaguman kepada mereka yang tetap istiqomah dalam tekanan, yang mampu melipatgandakan keimanan dalam dadanya ketika mereka tertindas. 

Saya kagum dan saya iri pada kalian…..

Di hari jumat yang mulia, mereka yang berjalan menuju Masjid Al Noor dan Masjid Linwood di Christchurch saya yakin tidak tahu bahwa mereka akan menjemput syahid disana, bahkan anak-anak yang riang tidak akan mengira akan bertemu Penciptanya dalam waktu dekat. Tapi Alloh selalu memberikan jalanNya bagi orang yang bertakwa, yang tidak akan dimengerti oleh kalian diluar Islam. 

Mereka kira dengan membantai kami ketika kami berkumpul bersujud menyembah Alloh adalah suatu kemenangan, padalah jika mereka membaca literaur pada pejuang Islam dari zaman Nabi sampai hari ini, tidak akan ditemukan pejuang yang merasa takut atapun menghindari menyembah Alloh karena takut mati. Bahkan mereka akan melaju kencang menuju ‘apa yang mereka anggap menakutkan’, terror kalian tidak akan membuat kami takut, justru sebaliknya iman kami akan semakin bertambah dengan kejadian ini, just like I said, you guys will not understand….

Tak terhitung jumlah korban jiwa di Irak, Palestina, Syiria, Uighur, Rohingya, dan tempat-tempat lain dimana kaum muslimin dibantai. Apakah jumlah dan keimanan kami memudar ? tidak sama sekali, atau runutlah sampai kepada awal kenabian, apakah Bilal mau berhenti mengucapan ‘Ahad’ ketika dia dijemur tanpa pakaian, dadanya ditindih batu, diterlentangkan di panasnya padang pasir ? mulut dan lidah nya tetap mengucap keesaan Alloh ditengah siksaan yang mendera.

Janji Alloh itu adalah pasti, cepat atau lambat kita semua akan dikumpulkan bersama, disanalah keadilan yang hakiki akan terjadi. Disana saya yakin kalian akan menemukan keadilan yang tidak kalian dapatkan di dunia ini saudaraku, tempat kalian pastilah indah dimana tidak ada lagi rasa sakit yang mendera. Sedangkan kami disini, yang masih bertarung dengan dunia belum tahu apakah bisa berada di barisan kalian atau tidak. Kami yang setiap harinya berkutat dengan tuts keyboard ini bahkan kadang belum mampu menceritakan kisah kalian di timeline kami. Tapi janganlah ragu, jika Alloh sudah menghendaki kemenangan bagi umat Islam, makar manusia secanggih apapun tidak akan mampu menandingi makar Alloh.

…….

Kalian tidak tahu, mukmin yang meninggal di hari Jum’at mendapat perlindungan dari azab kubur.
Kalian tidak tahu, Alloh menganugrahkan syahid bagi mereka yang meninggal terdzalimi dan melindungi darahnya hingga titik akhir.

Kematian yang mulia bagi kalian saudaraku….

Warung Misbar Sang Primadona


Kalau ke Bandung pasti kita nyempetin makan di Warung Misbar...

Entah ya, Bandung tu selalu menjadi destinasi para pelancong terutama dari Jakarta untuk menghabiskan Weekend. Padahal macetnya ga ketulungan lho dari Jakarta, melewati pembangunan di sekitar jalan TOL alias terjadi penyempitan jalan yang pasti akan berimbas pada kemacetan panjang.

Tapi ya gitu deh, apapun yang terjadi tetep aja banyak yg jalan ke Bandung, termasuk kami :)

Dan untuk kali ini, ane yang kebagian ribet cari hotel di Bandung. Setelah beberapa kali browsing cari yg cocok (murah) jatuhlah pilihan di Orange House Syariah. Ni tempat menurut ane cucok banget terutama dalam masalah harga, murah cuy tapi ga murahan lho. Akses jalan deket ke tol Pasteur, cuma masuk jalan agak kecil nyampe deh
Orange House Syariah
Terlihat kecil dari luar, ternyata dalemnya lumayan luas bahkan extend sampai ada lapangan futsal di belakang. Kami kebagian kamar depan menghadap kolam ikan, di pinggir kolam ikan ada kursi meja buat santai which is good :)



Trip kali ini terasa lengkap karena mama papa dan adik ipar bisa ikut serta, refreshing sekaligus pengen membuat happy mama papa. 

Sebenarnya sebelum nyampe hotel kita pengennya jalan dulu  ke objek wisata yang deket hotel, cuma karena cuaca kurang bersahabat gagal deh rencananya.

Setelah istirahat sejenak menikmati suasana hotel, kami putuskan untuk berkunjung ke warung misbar untuk makan malam. Ane sama istri sudah pernah berkunjung jadi pengen ajak mama papa juga menikmati film film jadul sambil bersantap makan.
Warung Misbar
Kalian yang senang dengan film nostalgia nasional semisal Warkop DKI, film Bang Haji Rhoma, sampai ke film laga yang biasa dibintangi om Barry Prima Juga ada lho. Nostlagia lah ya menikmati film jadul dengan suasana mini theatre dan poster poster legenda film indonesia.

Soal menu ? jangan ditanya, beraneka macam man ! dengan sistem pengambilan makan ala prasmanan, pengunjung bisa leluasa memilih menu, sayangnya ane ga sempet foto untuk menu yang ada disana :)

Sensasi makan dengan menonton film jadul semakin asyik kalau kalian datang di malam hari, dengan penerangan redup makin syahdu deh tuh dengerin lagu-lagu bang Haji Rhoma. Kadang geli sendiri ketika nonton, rasanya kok lucu ya lihat adegan film jadul, secara dari mulai kostum, dandanan para aktor dan aktris nya kan 'old skul' banget gt lho, apalagi sensasi 'Hanniih sungguh terlaluhhh' sungguh sangat terasa.

Oke gaes, kalau kalian lagi liburan ke Bandung atau berencana menikmati weekend di Kota Kembang, jangan lupa mampir di Warung Misbar ya, dijamin Djadoel abiz

(Kembali) Mencoba Menjadi Narablog


Menjalankan profesi seoarang Narablog atau biasa dikenal dengan Blogger sebenarnya berawal dari keinginan untuk sharing pengalaman yang dialami sehari-hari, ditambah lagi kan kayanya keren ya kalau banyak yang baca tulisan kita dan menginspirasi banyak orang. Bahkan dulu saya sempat membuat blog khusus untuk jualan kaos, fungsinya cuma sebagai etalase barang dagangan aja dan engga kepikiran hal-hal lain. Blog lain yang sempat saya coba ber ‘niche’ Pendidikan, isinya adalah konten cara mengajar dan aktifitas kelas yang pernah saya lakukan sewaktu dulu menjadi staff pengajar di salah satu sekolah swasta di bilangan Tangerang Selatan, tapi ya itu tadi hanya sekedarnya saja.

MENDAPAT INSPIRASI 

Berbicara mengenai inspirasi, memang bisa datang dari mana saja, salah satunya dari membaca tulisan narablog yang lain atau kejadian yang dialami pribadi sehari-hari. Namun semua tidak semulus yang dibayangkan, pasti ada tantangan, salah satunya adalah konsistensi, kadang semangat tinggi untuk mengeluarkan pikiran, namun ketika hilang ide biasanya update blog juga menjadi terbengkalai. Beruntung bagi saya, beberapa bulan yang lalu saya bertemu kawan-kawan blogger di Facebook, saya mulai mengikuti akun sosmed mereka dan melihat bagaimana mereka sangat antusias dalam menulis dan update blog secara berkala.

Tulisan-tulisan mereka yang beraneka ragam, dan selalu update dalam mengisi blog membuat saya terkesima, betapa konsisten para blogger ini dalam menulis, sesuatu hal yang mungkin selalu saya lalaikan. Dengan berbekal semangat saya mulai kembali menulis tulisan pendek harian di Instagram selama 30 hari, dan sampai tulisan ini dibuat saya masih rutin menulis tulisan pendek saya di Instagram @andigarmadi (doakan semoga konsisten)

Dari merekalah saya banyak belajar mengenai konsistensi, gaya penulisan, sampai desain dan postingan yang keren di sosial media. Di titik ini saya seperti didorong untuk kembali menempatkan jari ini di tuts keyboard laptop dan handphone untuk kembali menulis.

ERA DIGITAL BAGI NARABLOG

Lama saya merenung, kemudian mulai menyadari bahwa di era digital seperti sekarang, menjadi Narablog boleh jadi adalah solusi bagi para penulis untuk share karya mereka kepada publik dengan cepat, dengan teknologi kita mampu untuk menuliskan opini maupun pengalaman hidup tanpa melalui proses bertele-tele ataupun seleksi ketat ala media cetak jaman dulu.

Saya lebih senang menyebutnya transformasi digital, bagaimana perkembangan teknologi sekarang telah membawa kita pada fase revolusi industri 4.0. sebagaimana revolusi industri terdahulu dari mulai revolusi industry 1 sampai 3 yang kesemuanya bertujuan untuk memudahkan kerja manusia, menyederhanakan proses sehingga bisa menghasilkan hasil yang signifikan. Dulu rasanya sulit banget ya ketika kita ingin tulisan kita masuk di media cetak, persaingan pasti sangat ketat, belum lagi harus mengetik di mesin tik dan dikirim via pos selama berhari-hari, setelah itu kita menunggu kepastian yang belum pasti berapa lama. Well itu sekelumit masa lalu yang sudah dihilangkan oleh kemajuan digital.

Kemudahan yang didapat di era digital ini harus dong meningkatkan produktifiitas kita, terutama para blogger. Yang harus diutamakan adalah mencari ide dan niche tulisan saja, selebihnya teknologi akan membantu dalam menyiapkan platformnya semisal blogger atau wordpress. Gampang banget kan ? template sudah disiapkan, kita tinggal pilih yang cocok dengan selera kita. Tinggal tulis dan share di sosial media, jadilah tulisan kita mulai berseliweran di timeline.

Berbicara produktifitas, Era digital lagi-lagi memberikan kemudahan, seperti aplikasi ngeblog yang bisa di unduh di smartphone, jadi dimanapun kalian bisa menuliskan ide-ide di blog secara langsung, kalau tidak mau unduh pun kita masih bisa menggunakan fasilitas notes yang pastinya ada di tiap smartphone. Intinya adalah kemauan diri kita mau menulis atau tidak, dengan semua kemudahan yang ada seharusnya sih lebih semangat menulis ya (self reminder buat saya juga)

Selain menulis di blog sendiri, kemajuan teknologi telah membuka kesempatan untuk Narablog menulis artikel di portal berita, tentu saja dengan seleksi ya. Namun prosesnya tidak serumit masa lalu, sekarang tinggal ketik tulisan dan send via email, dan kita tinggal tunggu approval atau persetujuan pihak terkait, dan selesai.

Nah jadi yang diperlukan adalah kemaun kita untuk menulis, ide-ide perlu terus digali supaya tulisan kita menjadi lebih menarik minat pembaca. Kadang tulisan tidak harus Panjang, yang penting bisa mewakili suasana hati pembaca. Sering juga saya membaca cerita yang Panjang tetapi entah kenapa rasanya kok engga terasa banget, tahu-tahu sudah di ending cerita. Nah disitulah letak tantangan yang harus dihadapai para blogger, bagaimana ‘membius’ pembacanya supaya menyelesaikan bacaanya sampai akhir, dan itu tidak mudah Ferguso 😊


BANGGA MENJADI NARABLOG PADA ERA DIGITAL

Sebagai generasi (pra) milenial, yang mengetahui bagaimana pergeseran teknologi ini terjadi, tentu menjadi kebanggaan berada di barisan milenial yang energik dengan segudang kreatifitas tulisan dan karya, sekaligus juga tantangan, mampukah bersaing dengan mereka ?

Saya masih ingat dulu ketika sekolah harus menulis karangan sebanyak 2 lembar kertas folio secara manual, setelah itu berkembang dengan mengetik di mesin tik jadul yang beratnya bisa dipake sebagai barbel di gym. Saya yakin generasi milenial tidak mengenal jenis mesin tik type barbel seperti saya.

Dari sekian banyak pengalaman menulis, saya terbilang minim melakukan publikasi dan tentu saja apresiasi menjadi barang mahal. Palingan Cuma share di WA grup keluarga saja, itupun entah dibaca atau tenggelam oleh chat pesan berantai yang memaksa disebarkan kembali jika tidak ingin kesialan menimpa.

Di beberapa tulisan blog memang ada sih  beberapa komen yang mengapresiasi tapi tidak banyak, maklumlah ngeblog masih sekedar menyalurkan cerita dan aspirasi diri saja. Kepercayaan diri saya mulai tumbuh lagi ketika saya mendapat apresiasi berupa regram pada hari ke-7 tulisan pendek di Instagram oleh akun @30haribercerita, pencapaian yang sangat berarti dalam ukuran saya yang baru mulai menulis kembali setelah sekian lama vakum. Rasanya tuh seneng banget, begitupun ketika membaca komen yang muncul di postingan tersebut, Alhamdulillah seperti mendapatkan energi tambahan untuk menulis lagi dan lagi.

Acara di Kantor Microsoft

Menjadi Narablog juga berarti berksempatan menyebarkan informasi kepada publik. Selain itu kita juga mempunyai kewajiban untuk memberikan konten positif, setidaknya berkontribusi dengan cara tidak menyebarkan informasi yang berpotensi memecah belah atau berita hoax yang meresahkan. Bukankah akan lebih bermanfaat jika kita share hal-hal yang berguna bagi para netizen semisal berbagi ilmu atau tips & trik iya kan ?.

Rasanya senang ketika bisa menyebarkan kebaikan, setidaknya kita bisa berpartisipasi memberi motivasi, cerita membangun dan kegiatan positif. Terus terang saya merasa prihatin dengan kondisi informasi negatif sekarang ini, aroma kebencian, kenyiyiran, serta hoax seperti menghiasi timeline sosial media. Bahkan banyak yang tadinya teman malah berantem karena beda pilihan politik. Lelah sudah rasanya membaca energi negatif yang membumbung tinggi.

Nah, menyebar konten positif adalah suatu solusi untuk menenggelamkan berita negatif tersebut di beranda kita, dengan aktif menuliskan status positif maupun share tulisan blog kita yang menginspirasi setidaknya akan memberikan warna baru bagi teman yang membaca timeline sosial media, siapa tahu ada teman yang sedang membutuhkan semangat karena gundah gulana akibat ditinggal pergi pacarnya, ketika membaca blog yang kita bagikan suasana hatinya menjadi lebih ceria dan termotivasi untuk bangkit dari keterpurukan. Kan jadi bernilai ibadah betul tidak ?

Jujur ya, menuliskan apa yang ada dikepala kita itu seperti memberikan kepuasan bathin tersendiri, bisa menyalurkan ide melalui media tulisan akan menimbulkan gairah seperti melepaskan suatu kepenatan. Dari sana mulai tercipta gaya tulisan dan niche yang membuat kita nyaman dalam menulis. Berhasil membuat tulisan yang menyentuh hati pembacanya merupakan prestasi tersendiri, bukankah para penulis ulung juga memulai tulisan dari satu paragraf ?

Hal-hal kecil kecil seperti itulah yang membuat saya bangga menjadi narablog,


MEMBUNGKUS RESOLUSI

2019 yang baru dimasuki menjadi tonggak untuk menentukan tujuan 1 tahun kedepan, resolusi yang biasa menjadi usang seiring waktu berjalan harus segera diperbaiki, dengan konsistensi.  Ya konsistensi adalah resolusi yang rasional bagi saya yang baru bergerak lagi untuk menulis, bisa memaksimalkan waktu antara kerjaan di kantor dan kegiatan blogging sehingga bisa seiring seirama. Karena kadang ketika tumpukan kerjaan kantor overload, energi dan ide untuk menulis otomatis akan menurun, yang pada akhirnya terlupakan.

Pengen banget mendisiplinkan diri menulis harian, bahkan mungkin bermimpin membuat sebuah buku, ah….. mudah-mudahan saja dengan konsistensi menulis di 2019 maka selangkah demi selangkah dapat mendekati impian. Aamiin