(Belum) Siap Normal

 


Akhir 2019 kita dikejutkan oleh berita sensasional mengenai merebaknya satu virus mematikan dengan penyebaran yang sangat cepat secara global ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Corona Virus Disease 2019 atau lebih dikenal dengan Covid-19. Indonesia terbilang lambat dalam mengantisipasi virus ini, dengan berbagai keyakinan dari pemerintah waktu itu bahwa virus ini tidak akan masuk ke Indonesia sampai dengan berita mengenai sembuhnya 2 pasien pertama covid-19 dengan perantara minum jamu menghiasi tayangan berita di hampir semua stasiun TV. Berita yang terbilang mengejutkan ditengah masih sibuknya dunia dalam mencari anti virus atau obat penyembuh virus Covid-19. Sampai sekarang berita penyembuhan dengan jamu tersebut masih menjadi misteri.

Ketika akhirnya Indonesia harus menerima kenyataan pahit bahwa ternyata Covid-19 bisa melenggang masuk dan menjangkiti banyak masyarakat Indoensia dari mulai gejala ringan sampai meninggal dunia, maka kehidupan masyarakat dipaksa berubah. Memakai masker kemanapun pergi, sering mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak dan menghindari kerumunan, sampai regulasi work from home (WFH) dan School from home pun diberlakukan untuk menghindari bertambahnya korban pandemic Covid-19. Semua harus menjadi normal di suasana yang tidak normal.

Pertanyaannya adalah sudah siapkah masyarakat Indonesia melakukan transisi menuju new normal?

Mengapa Pertanyaan itu muncul? Karena penulis melihat perilaku masyarakat Indonesia itu sendiri yang agak mengkhawatirkan. Seperti Ketika menjelang Iedul Fitri kemarin, pusat perbelanjaan hingga pedagang pinggir jalan masih ramai dipenuhi peminat untuk membeli baju maupun perlengkapan lebaran lainnya. Belum lagi pemakaian masker yang masih sembrono bahkan masih banyak masyarakat yang keluar rumah tanpa memakai masker. Dan dengan mulai diberlakukannya masa transisi menuju new normal, kecemasan akan hadirnya ‘second wave’ masih menghantui kehidupan masyarakat Indonesia.

Data lapangan berbicara bahwa Indonesia masih harus berjuang keras untuk bisa lepas dari jeratan virus corona, Bapak Achmad Yurianto selaku juru bicara pemerintah terkait penanganan corona, dalam update corona yang disiarkan akun youtube BNPB pada selasa 30 juni 2020 seperti dilansir detiknews menyebutkan bahwa per tanggal 30 Juni 2020 ada 43.797 ODP dan 13.182 PDP di Indonesia. Angka tersebut masih bisa terus naik mengingat belum meratanya test masal yang dilakukan di seluruh Nusantara.

Bahkan hal tersebut diperparah dengan ketidakdisiplinan masyarakat itu sendiri. Hasanuddin Ali, CEO Alvara Research Center dalam keterangan tertulisnya yang dimuat di infobrand (dot) id mengatakan bahwa public menilai tingkat kedisiplinan dan partisipasi warga sekitar dalam menjalankan social/physical distancing di lingkungan mereka cukup rendah. Dari hasil survey Alvara disebutkan bahwa hanya 8,3% menilai semuanya benar benar patuh, 38,7% menilai Sebagian kecil mengikuti, 50,2% menilai Sebagian besar tidak mengikuti; dan 2,6% menilai tidak ada yang mengikuti, serta 0.2% menjawab tidak tahu. Sebuah data hasil survey yang miris mengingat betapa berbahayanya penularan virus ini.

Jika kita berkaca pada negara lain yang sudah berhasil ataupun paling tidak mengurangi penularan virus ini secara signifikan maka akan kita temukan beberapa metode yang bisa kita coba. Sebagai contoh adalah negara tetangga kita Vietnam. Dikutip dari artikel dalam situs World Economic Forum, Vietnam meluncurkan sederet inisiatif untuk melawan penyebaran corona pada 1 Februari 2020. Seluruh penerbangan dari dan menuju Tiongkok disetop, sekolah ditutup setelah libur tahun baru Tiongkok. Dua minggu kemudian karantina diberlakukan di provinsi Vinch Phuc sebelah utara Hanoi, selanjutnya Vietnam memberlakukan karantina selama 14 hari untuk siapapun yang baru tiba di Vietnam dan menyetop seluruh penerbangan internasional. Kunci penanganan corona di Vietnam bukanlah dengan tes masal seperti di Korea Selatan, melainkan dengan respon cepat dan Kontrol pemerintah.

Baca Juga : Menyerah atau Bangkit

Kesiapan Pemerintah dalam menghadapai New Normal yang terbilang lambat perlu diakselerasi, setidaknya ada beberapa poin yang menurut penulis perlu diperhatikan. Yang pertama adalah biaya Rapid Test dan SWAB test yang masih terbilang mahal untuk kalangan masyarakat bawah, alangkah baiknya jika ada kebijakan dari Pemerintah pusat yang membuat biaya tersebut menjadi terjangkau atau malah gratis bagi masyarakat. Selanjutnya adalah mengenai kebijakan transportasi umum, jika di DKI Jakarta dengan Transjakarta nya yang sudah menerapkan secara konsisten masalah physical distancing bagaimana dengan angkot? Apakah sudah ada regulasinya? Apakah para sopir angkot itu rela jumlah penumpangnya berkurang setengahnya karena harus duduk berjarak? Jika melihat realitas di lapangan, penulis masih sering melihat angkot yang penuh dan tanpa tanda (x) di tempat duduk penumpang. Hal penting lainnya adalah pasar tradisional dan mall, Ketika tulisan ini dibuat (01/07/2020) penulis baru mendengar kabar bahwa pedagang di pasar Mede yang notabede warga Kebayoran Lama positif covid. Menyikapi hal tersebut, apakah ada regulasi untuk pasar tradisional dan mall? jikapun ada apakah bisa dilakukan dengan disiplin dan konsisten oleh para penegak hukum? Sehingga penyebaran bisa diminimalisir. Selanjutnya adalah dunia Pendidikan, Sudahkah ada antisipasi jika nanti anak sekolah mulai masuk? Mengingat akan massive nya hilir mudik para pelajar dari mulai TK sampai Universitas, kondisi di jalan kemudian bagaimana interaksi siswa di sekolah. Sudahkah ada rencana yang efektif supaya penyebaran virus ini tidak meluas dengan perantara para siswa?.

Dari sisi masyarakat pada umumnya, penulis melihat justru beberapa waktu belakangan Ketika PSBB mulai dicabut masyarakat mulai lebih santai menyikapi pandemi ini, ditandai dengan keramaian yang makin meningkat di jalan maupun di tempat umum, mulai masuknya para pekerja kantoran walaupun belum semuanya, kegiatan masyarakat semisal di lingkungan RT mulai Kembali ramai dengan aktivitasnya. Fenomena ini bisa berarti baik maupun buruk, tergantung bagaimana kita melihatnya, bisa dimaklumi masyarakat yang mulai bosan dengan kegiatan di rumah yang belum jelas kapan berakhir, bisa juga sudah merasa masa bodoh dengan pandemic, atau malah ada yang skeptis dan lebih memilih ide konspirasi sebagai jalan keluar.

Dari pemaparan diatas penulis berkesimpulan bahwa sebetulnya kita belum siap menghadapi new normal, dari aspek regulasi hingga kesadaran masyarakat itu sendiri. Masih banyak PR bagi kita supaya negara ini bisa segera terbebas dari pandemic ini. Sebagai seorang individu dari masyarakat, penulis hanya bisa menghimbau untuk tetap berdisiplin menjaga diri, setidaknya dengan selalu memakai masker kemanapun pergi dan rajin mencuci tangan dengan sabun kapanpun dan dimanapun, karena sekarang kita tidak boleh tergantung pada siapapun, lebih baik bersikap mandiri dan bertanggung jawab menjaga diri serta keluarga terdekat dari ancaman virus ini. Untuk Pemerintah penulis berharap jangan sungkan untuk meniru metode nagara lain yang sudah berhasil, bergeraklah cepat karena rakyat sudah menunggu teralu lama dalam ketidakpastian. Satu yang pasti adalah masyarakat tidak mau menjadi korban HERD immunity… tidak mau!

Penulis : Andi Garmadi

 

Menyerah atau Bangkit ?


Tidak mudah memulai suatu langkah, sungguh banyak rintangan yang menghadang. Perlu perjuangan tinggi melintasi badai supaya bisa survive, terluka ya, terjatuh sudah pasti, namun ada pengharapan di depan yang selalu membuat kita bangkit kembali.

Rencana manusia pastilah ‘tak sempurna’. Begitu banyak hal dalam pikiran yang direncanakan namun dalam kenyataannya hanya rencana Tuhan yang paling sempurna.

Seperti yang pernah saya alami tahun-tahun awal mulai menapaki dunia kerja. Sunguh jika bukan karena takdir Alloh SWT, mungkin saya tidak akan berada di dunia yang sekarang saya geluti.

Berbicara perjalanan hidup, rasanya tidak akan lepas dari kontribusi kakak saya (alm) Ikin Ahmad Sodikin. Saya menyebutnya ‘Fase 2’ kehidupan yang saya jalani. Fase dimana saya harus kehilangan orang tua dalam kurun waktu 2 tahun berturut-turut, dimana kebimbangan dan kesedihan layaknya awan tebal yang menutupi pandangan mata. Di Fase 2 inilah Ang Ikin, begitu saya menyebutnya, mengulurkan tangan dan secara perlahan mengajak saya melewati awan tebal kehidupan.

Sebagai anak bungsu dari 6 bersaudara, tidaklah mudah mengubah paradigma befikir seorang anak yang terbiasa ‘disuapi’ menjadi anak yang mandiri secara penuh. Fase 2 adalah Fase kesedihan, Fase perjuangan, Fase transformasi dalam kehidupan saya.

Dimulai dengan mengambil keputusan untuk hijrah ke Bogor, berhenti kuliah dari Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto dan melanjutkan studi di Universitas Terbuka (UT). UT seyogyanya tidaklah terlalu asing bagi saya karena Ang Aos, kakak pertama saya juga alumni UT dengan jurusan yang sama.

Selain kuliah di UT saya mulai menapaki dunia kerja di bengkel Ang Ikin yang baru dirintisnya di daerah Parung Bogor. Inilah langkah pertama saya dalam memasuki dunia kerja.
Dunia saya mendadak terbalik 180 derajat, perlu adaptasi ? pasti, namun harus dalam waktu sesingkat mungkin. Tidak banyak waktu bagi saya untuk meratap dan mencari alasan, hanya ada dua pilihan, menyerah atau bangkit.

Saya memilih bangkit.

Menata kembali rencana masa depan yang berserak, membangun kembali semangat yang sempat pudar, dan mulai menyusun kembali impian yang sempat hilang. Tekad saya ketika itu adalah “Saya harus merubah energy negative ini menjadi energy positif yang membangun”

Masih terbayang jalur jalan berkelok via Puncak menuju Parung, pandangan nanar setengah hampa melengkapi perjalanan saya di Bus yang sesekali teralihkan oleh hijaunya pohon teh sepanjang jalur puncak serta hembusan angin segar yang mengelus lembut.

Dan dari sepetak tanah bengkel di Parung, harapan kembali dimunculkan, tidak mudah dan banyak rintangan pastinya, namun saya bertekad untuk buktikan bahwa saya bisa bangkit dari keterpurukan, mampu untuk mandiri secara psikologis dan ekonomi. Dan Ang Ikin selalu menjadi api penyemangat, sekaligus selimut tempat berlindung bagi saya di fase ini  (semoga semua kebaikan beliau menjadi ladang pahala yang tidak putus aamiin)

Hidup adalah pilihan, begitu menurut orang-orang bijak terdahulu. Menjadi A atau menjadi B di hari ini ditentukan oleh keputusan kita di masa lalu. Ketika hidup memberi kita tantangan, maka disitu pasti ada pilihan, kita dituntut untuk berani ambil keputusan yang harus dipertanggung jawabkan tanpa keluhan. Berani mengambil keputusan adalah tanda kedewasaan, setidaknya itulah yang saya pelajari dari kedua orang tua dan kakak-kakak saya.

Kamu tidak bisa memaki takdir yang telah kamu pilih sendiri, jalani dan bertanggung jawab. Beranilah dalam menantang gelombang, bukankah kapal berlayar dengan menantng angin?

AMG 2020

Koperasi Zaman Now Dalam Persaingan Digital


Apa yang ada di benak kalian ketika mendengar kata “Koperasi” ?

Yang saya ingat adalah koperasi waktu sekolah adalah ruangannya kecil, bisa simpan pinjam, dan menggunakan sistem yang sederhana. Dulu sering banget beli keperluan sekolah di koperasi semisal buku dan peralatan tulis, dan bagi guru-guru, koperasi menjadi tempat untuk meminjam uang dengan proses yang sederhana, sangat membantu. Tidak heran koperasi dijuluki “soko guru” atau tulang punggung perekonomian nasional.

Well, tidak hanya koperasi sekolah, koperasi juga akrab dengan keluarga kami dalam bentuk simpan pinjam yang datang ke rumah-rumah / "door to door system". Kami di daerah sudah terbiasa dengan orang-orang yang datang untuk memungut uang pinjaman secara harian.

Berjalannya waktu, koperasi seperti tenggelam oleh waktu, fintech menjamur seiring berkembangnya teknologi 4.0 di Indonesia. Koperasi seperti terlupakan dan berjalan di tempat, entahlah mungkin era inovasi disruptif ini sangat berpengaruh bagi milenial sekarang.

Apa yang terjadi sebenarnya ?

Secara sederhana, jawabannya adalah “Sistem TI yang ketinggalan”

Jika kita kupas lebih dalam lagi, beberapa tantangan yang harus dihadapi oleh koperasi pertama adalah bagaimana membangun infrastruktur TI dengan biaya investasi yang terjangkau, kemudian bagaimana memanfaatkan teknologi handphone dan internet untuk memperluas jangkauan layanan dan meningkatkan kualitas layanan, serta bagaimana memanfaatkan teknologi TI yang canggih tanpa harus memikirkan kemampuan SDM yang dimiliki koperasi, dalam kata lain Koperasi tidak perlu membayar mahal hanya untuk menggaji SDM.


Hal yang menarik lainnya adalah pertumbuhan UMKM atau Start Up semakin menjamur lho di Indonesia, nah sektor ini bisa menjadi target market dari Koperasi untuk bisa eksis. Namun koperasi harus bertransformasi dulu dong ya menjadi koperasi zaman now untuk merebut hati para milenial.

Ada beberapa data menarik berkenaan dengan pertumbuhan UMKM dan aktivitas digital berikut.

Menurut data yang dirilis McKensey and Company, ekonomi Indonesia akan terdongkrak sebesar 10% melalui aktivitas digital pada 2025*


Delloite‎ Access Economics, menunjukkan lebih dari sepertiga UMKM di Indonesia atau 36% masih bersifat offline dan sepertiga lainnya atau 37% hanya memiliki kemampuan online yang sangat mendasar seperti komputer atau akses broadband*

Data dari McKinsey Global Institute menyebutkan 18% yang memiliki kemampuan online menengah yaitu menggunakan web atau media sosial, 9%  pelaku UMKM yang sudah memiliki kemampuan bisnis online lanjutan dengan kemampuan e-commerce, dan hanya 5% UKM yang sudah mampu bertransaksi online*

UMKM tersebut membutuhkan dukungan layanan keuangan, semisal permodalan untuk mengembangkan bisnisnya. Nah disinilah saya lihat celah untuk koperasi masuk dan menjadi alternatif bagi para pelaku UMKM melalui koperasi digital.

Mengapa harus koperasi ?

Pertama karena industri perbankan nasional masih mempunyai kendala untuk memenuhi kebutuhan modal UMKM, bisa jadi persyaratan yang rumit yang biasanya belum bisa dipenuhi oleh para pelaku UMKM, alasan kedua adalah karena koperasi menjangkau wilayah hampir seluruh Nusantara. Koperasi dapat dengan mudah menyalurkan kredit bagi UMKM di pelosok daerah terpencil.

Transaksi juga menjadi opsi yang harus diperhatikan oleh koperasi, dengan smartphone ditangan, milenial mengharapkan semua solusi bisa dilakukan via handphone, semisal beli pulsa, pembayaran tagihan listrik, dan transfer uang.

Lalu teknologi seperti apa yang harus diadopsi oleh koperasi ?

Apa yang harus Koperasi Zaman Now lakukan ?

Dengan perkembangan teknologi, Koperasi harus segera beradaptasi dengan perkembangn tersebut dengan tetap memperhitungkan kemampuan. Untunglah sekarang sudah tersedia teknologi dengan sistem pay-per-use alias hanya membayar resource yang digunakan atau bahasa kerennya biasa disebut dengan OPEX.

Teknologi Komputasi awan bisa menjadi pilihan bagi koperasi untuk bertransformasi di era digital karena teknologi komputasi awan ini lebih ekonomis dan terjangkau karena memakai sistem sewa. Contoh nyata yang bisa dicoba adalah dengan membuat solusi digital terpadu khusus untuk koperasi, dengan mengadopsi core banking. Contoh core banking yang bisa diadopsi adalah pinjaman digital, tabungan digital, dan berbagai pembayaran yang bisa diakses via smartphone berbasis android, IOS, dan PC windows.

Credit Scoring juga bisa menjadi pilihan lain untuk koperasi simpan pinjam, yang akan mengotomatisasi seluruh proses pemberian pinjaman mulai dari "origination" hingga "reporting". Dengan sistem ini maka akurasi persetujuan pemberian pinjaman akan semakin meningkat, sehingga pelayanan kepada customer koperasi pun bisa semakin cepat dan canggih. Layanan credit scoring juga akan lebih maksimal jika digabungkan dengan sistem arsip dan ruang penyimpanan data secara digital yang menerapkan keamanan tinggi.


Pelayanan juga harus menjadi perhatian dong, apalagi sekarang hampir seluruh elemen masyarakat menggunakan sosial media, jika pelayanan kurang memuaskan bisa jadi customer akan "berkicau" di sosial media dan menjadi nilai negatif bagi suatu brand/perusahaan. Demikian juga dengan koperasi, pelayanan atau customer service juga perlu di upgrade. Saya menemukan teknologi yang mungkin bisa diadopsi oleh koperasi untuk meningkatkan layanan dalam berinteraksi dengan customer via verbal, gambar, maupun text.

Pelanggan / anggota koperasi bisa berinteraksi langsung via smarphone berbasis android dengan agen / petugas koperasi. Mereka bisa bertanya mengenai produk dan layanan dari koperasi secara online. Dengan demikian akan terjalin komunikasi dua arah yang efektif dan meningkatkan kepercayaan pelanggan dari koperasi itu sendiri.

Koperasi mempunyai kesempatan untuk bersaing di era digital, kembali menjadi soko guru yang diperhitungkan dalam perekonomian nasional dengan syarat bahwa koperasi harus mau bertransformasi, mengikuti perkembangan teknologi, karena koperasi mempunyai modal untuk itu. Saya yakin, koperasi akan menjadi solusi bagi start up ataupun UMKM untuk bersaing di era digital.

*Research McKensey and Company dan Delloite‎ Access Economics
*Data Grafis, indonesia.go.id dan sumber lainnya
*Desain Grafis, Karya penulis

Menikmati Liburan Keluarga Sambil Kerja di Taman Herbal Insani Depok


"Bi jalan yuk, masa liburan ga kemana-mana" kata istri saya beberapa waktu yang lalu. Iya juga sih, liburan anak anak sekolah ini belum jalan yang khusus untuk berlibur sebenarnya.

"Kemana say?" Tanya saya

"Ada tempat bagus say namanya Taman Herbal Insani" lanjut istri saya, "jaraknya juga deket dari Sawangan" lanjut nya menguatkan

Well emang bagus ya? Gumam saya dalam hati, "yaudah besok kita kesana deh" jawab saya

Der...der... Hape saya bergetar, saya cek ada pesan masuk dan saya tertegun membacanya.

"Ada apa sih say, kok malah diem?" Tanya istri saya

"Ini ada tugas dadakan yang mesti aku selesain besok sebelum jam 5 sore" jawab saya lirih, khawatir buat dia kecewa.

"Boleh ga kesananya aku bawa laptop? Biar bisa sekalian beresin, malam ini aku kerjain sebagian biar besok ga terlalu banyak" pintaku

Alhamdulillah istri sholehah ga keberatan, jadilah saya siapkan perlengkapan perang kedalam tas.

Taman Herbal Insani letaknya ada di sekitaran pengasinan Depok, kalau orang Depok mau ke Bogor biasanya lewat sini buat menghindari macetnya pasar Parung. Sebelum pertigaan Bojongsari ada pertigaan arah pengasinan, ada pak ogah yang sibuk nyebrangin orang sebagai patokannya hahaha. Ikuti aja terus jalannya sampai nani ada pertigaan tugu batu, kalian ambil kanan. Ikuti terus jalannya kalian akan menemukan petunjuk arah menuju lokasi.

Naik motor apa mobil ? Tenang aja akses bisa mobil atau motor, cuma jalannya ga terlalu lebar ya. Petunjuk jalannya pun jelas, ada dipasang dimana mana biar ga pada nyasar kali ya.

Sampai lokasi kami agak pesimis sebenarnya, soalnya ga keliatan sama sekali area masuknya.

"Masuk aja pak, agak kedalam nanti ada parkiran" kata seseorang yang saya tebak adalah tukang parkir

Masuklah kita, eh malah masuk area penduduk perkampungan, tapi ada banyak motor terparkir, yaudahlah parkir aja disini batin saya, kebetulan pula ada ibu-ibu mendekat sambil ngasih kertas ajaib tanda parkir..... hmmm seriously ?

Berhubung baru pertama kali kami coba aja peraturan yang ada, selepas parkir kami jalan menelusuri jalan setapak perkampungan gitu, mulai khawatir juga ini tempat ada apa engga sih ? gimana mobil bisa masuk ? batin saya makin penasaran.

Setelah berjalan sekitar 5 menit, kami terpana dengan area luas Taman Herbal Insani, Gerbangnya etnik dari bambu, parkiran juga luas, ternyata mobil bisa melewati jalur lain dengan akses langsung menuju gerbang utama. Motor bisa lalui jalur jalan setapak perkampungan seperti kami atau bisa jalur besar juga, terserah saja soalnya ga jauh juga kok dari parkiran motor kami di parkiran halaman rumah ibu-ibu tadi.

Alamat :  Jl. Kp. Kondang No.26, Kelurahan Duren Seribu, Kecamtatan Bojongsari. Intinya, lokasinya hampir di perbatasan Kota Depok dan Kabupaten Bogor

Yaudah lah ya, kita langsung menuju loket untuk membeli tiket 2 dewasa 2 anak. Harga tiketnya Rp. 20.000, cukup murah untuk area wisata yang dekat dengan rumah seperti ini.

Baca juga : Kunjungan kami ke Warung Misbar Bandung yang unik

Berhubung kami datang dikala masa liburan sekolah, kondisi Taman Herbal Insani pueenuh pol, plek tumplek ampe tumpe tumpe. Ya namanya juga peak seasson pasti Tempat wisata penuh, apalagi hari terakhir libur.

Kita muter muter cari spot buat gelar tiker, yang adem dan stategis. Oya kalau kita ga bawa tiker bisa kok sewa dilokasi, ada juga gazebo yang disewakan buat yang duitnya lebih, tapi ga tau juga sih sewanya berapa.




Gaes tempatnya Instagramable banget deh, banyak spot foto buat konten kalian posting di IG lho. Mulai dari spot kursi yang beraneka warna, spot foto dengan background danau, spot gua buatan, sampai spot sepeda tua juga ada. Luas juga memang wilayahnya, ada kolam renang, kolam arena bebek-bebekan, dan arena kuliner sudah pasti hadir dengan aneka ragam makanan. Langsung aja Biya Basel cekrek-cekrek didepan Iguana dan beberapa kura-kura yang sedang berpose.



Okelah setelah jalan sekitar dan nemu spot oke buat gelar tiker, langsung deh saya buka laptop untuk kejar dateline kerjaan, bocah dan istri ga lama langsung cuss aja menuju area permainan lain, seru aja mereka main becak-becakan, bebek-bebekan, sampai berenang di kolam renang yang tumpah ruah oleh banyaknya bocah yang nyemplung disana, entahlah mereka mau berenang atau cuma maen air doang soalnya penuh banget gaes.



Meanwhile saya mencoba konsentrasi untuk menyelesaikan agenda hari itu didepan layar laptop ditemani semilir angin dari pohon tempat saya menggelar tikar. Well, asyik juga mengerjakan tugas di luar ruang, lebih fresh dan lebih produktif.


Sambil menikmati cemilan yang disiapkan istri sholehah dari rumah, tak terasa jari ini menari diatas keyboard laptop dengan lincahnya, menuangkan ide sambil menikmati hilir mudik orang yang lalu lalang. Mungkin jika bukan masa liburan suasana bisa lebih kondusif lagi dalam menikmati suasana alamnya, ya tau sendiri kalau udah terlalu penuh oleh pengunjng kan kurang maksimal gitu loh santainya :)

Sebelum jam 5 sore, tugas dah selesai, baru sadar kalau sedari tadi saya belum foto-foto lho, saking serius dan fokusnya nyelesein tugas. Segera setelah para bocah selesai berenang barulah mulai beraksi untuk wefie bareng sebelum Taman Herbalnya Closing hari itu. Not bad lah sempet foto di spot danau dan jembatan, Biya Basel bahkan nambah foto di area rumput sintetis.



Masih banyak spot yang belum kita datengin, semisal area panahan, area tanaman herbal, area rumah saung dan taman kelinci. Next time kita explore lagi deh area yang belum terjamah, maklum liburan sambil ngerjain tugas seperti ini waktunya ga cukup buat kunjungi semua spot yang ada.

Yuk Ke Taman Herbal Insani lagi :) 


Berteriak Dalam Sepi


Baru sekarang saya beranikan diri untuk post tulisan blog ini, berat rasanya menulis ini, menceritakan kembali suatu cerita yang teramat saya rindukan. Cerita mengenai sosok panutan yang berpengaruh bagi hidup saya.

Saya menemukan detak cinta disetiap sudut rumah kami di Ciamis, asupan kasih sayang yang tak pernah habis dicurahkan kedua orang tua kami waktu itu.

Cerita mengenai orangtua kami adalah mutiara, hanya akan didapat jika masuk ke relung lautan hati yang dalam. Namun, kali ini saya ingin menulis tentang sosok pahlawan dalam diri Ikin Ahmad Sodikin, kakak sekaligus sosok idola bagi saya.


"Aku ingin menjadi seperti dirimu ang, pejuang arief bijaksana, penyayang pada keluarga dan sekitar" 

Kecintaanmu, baktimu kepada orangtua kerap membuat aku menangis jika mengingatnya. Pernah kamu membawa baskom berisi air, kamu cuci kaki 'ema', kamu cium kaki beliau dengan takzim sambil meminta doa dan keberkahan





Mungkin kamulah yang menjadi pengganti orang tua setelah ema bapak meninggal, aku ingat bisikanmu ke telinga ema sebelum beliau wafat "ma yang tenang, andi akan Ikin urus" kata kata yang membuat ema lega dan meninggalkan dunia fana ini dengan tenang.

Kamu tepati janjiimu, mengantarku sampai wisuda, memberi jalan pekerjaan, dan selalu ada ketika dibutuhkan. Ah sangatlah berhutang budi diri ini ang...



Saat ini aku sering merindukan pesan singkatmu untuk bertemu atau datang sepulang kantor sekedar bercerita dan berbagi ide, atau janjian kita untuk mudik bareng ke Ciamis ketika Lebaran tiba. Rasanya belum bisa hilang dalam ingatan.




Doaku selalu untukmu ang, doa terbaik bagi para penghuni syurga. Kebaikanmu menghantarkan senyum yang tersungging abadi dalam bibirmu setelah terucap kalimat tauhid hari itu. Really miss u, i really do....



Cinta Untuk New Zealand



Saya tulis ini dengan rasa cinta kepada saudara-saudara saya di New Zealand.

Kejadian hari Jumat kemarin menurut saya adalah bentuk terorisme nyata, bentuk rasisme tingkat tinggi akibat  kampanye rasis oleh pihak tertentu terhadap umat Islam. Apakah saya marah ? iya tentu saja saya marah, saya punya hak untuk marah atas kejadian yang menimpa saudara seiman saya, namanya ukhuah Islamiah, satu bagian badan sakit maka seluruh anggota badan merasakan sakit yang sama.  

Apakah dunia akan mengatakan ini aksi teroris ? saya tidak peduli, hati nurani saya sudah tidak peduli lagi terhadap apa yang akan dikatakan oleh media, baik luar maupun dalam negeri, begitu banyak aksi kekerasan terhadap umat Islam di seantero dunia, apakah pelaku disebut teroris ? TIDAK, karena itulah saya tidak peduli, yang saya pedulikan adalah rasa cinta dan kekaguman kepada mereka yang tetap istiqomah dalam tekanan, yang mampu melipatgandakan keimanan dalam dadanya ketika mereka tertindas. 

Saya kagum dan saya iri pada kalian…..

Di hari jumat yang mulia, mereka yang berjalan menuju Masjid Al Noor dan Masjid Linwood di Christchurch saya yakin tidak tahu bahwa mereka akan menjemput syahid disana, bahkan anak-anak yang riang tidak akan mengira akan bertemu Penciptanya dalam waktu dekat. Tapi Alloh selalu memberikan jalanNya bagi orang yang bertakwa, yang tidak akan dimengerti oleh kalian diluar Islam. 

Mereka kira dengan membantai kami ketika kami berkumpul bersujud menyembah Alloh adalah suatu kemenangan, padalah jika mereka membaca literaur pada pejuang Islam dari zaman Nabi sampai hari ini, tidak akan ditemukan pejuang yang merasa takut atapun menghindari menyembah Alloh karena takut mati. Bahkan mereka akan melaju kencang menuju ‘apa yang mereka anggap menakutkan’, terror kalian tidak akan membuat kami takut, justru sebaliknya iman kami akan semakin bertambah dengan kejadian ini, just like I said, you guys will not understand….

Tak terhitung jumlah korban jiwa di Irak, Palestina, Syiria, Uighur, Rohingya, dan tempat-tempat lain dimana kaum muslimin dibantai. Apakah jumlah dan keimanan kami memudar ? tidak sama sekali, atau runutlah sampai kepada awal kenabian, apakah Bilal mau berhenti mengucapan ‘Ahad’ ketika dia dijemur tanpa pakaian, dadanya ditindih batu, diterlentangkan di panasnya padang pasir ? mulut dan lidah nya tetap mengucap keesaan Alloh ditengah siksaan yang mendera.

Janji Alloh itu adalah pasti, cepat atau lambat kita semua akan dikumpulkan bersama, disanalah keadilan yang hakiki akan terjadi. Disana saya yakin kalian akan menemukan keadilan yang tidak kalian dapatkan di dunia ini saudaraku, tempat kalian pastilah indah dimana tidak ada lagi rasa sakit yang mendera. Sedangkan kami disini, yang masih bertarung dengan dunia belum tahu apakah bisa berada di barisan kalian atau tidak. Kami yang setiap harinya berkutat dengan tuts keyboard ini bahkan kadang belum mampu menceritakan kisah kalian di timeline kami. Tapi janganlah ragu, jika Alloh sudah menghendaki kemenangan bagi umat Islam, makar manusia secanggih apapun tidak akan mampu menandingi makar Alloh.

…….

Kalian tidak tahu, mukmin yang meninggal di hari Jum’at mendapat perlindungan dari azab kubur.
Kalian tidak tahu, Alloh menganugrahkan syahid bagi mereka yang meninggal terdzalimi dan melindungi darahnya hingga titik akhir.

Kematian yang mulia bagi kalian saudaraku….