Rutinitas pagi bagi saya sebagai seorang karyawan adalah
berada di jalanan dengan kondisi jalanan Jakarta yang ga pernah rapi. Melewati
pasar yang dipenuhi pedagang yang mengambil hampir 40% jalan, berharap ada
trotoar yang kosong ? maka saya pasti sedang bermimpi hehehe.
Dan dilengkapi dengan jejeran angkot yang berjejer tanpa
dosa menambah seru keadaan pagi, namun yang lebih miris menurut saya adalah
disitu berdiri bapak penegak kedisiplinan lho. Nah yang menjadi ganjalan di
hati saya adalah….. wong ada petugas aja masih berani ngetem gimana ga ada
petugas tho ?.
Namun semua hal tersebut seperti sudah menjadi rutin yang ga
perlu saya masukan ke dalam otak saya. Setelah melewati jalur yang sumpek
biasanya saya sudah cukup dapat tersenyum ketika memasuki area Pondok Indah. Jalanan
yang cukup besar walaupun antiran kendaraan masih terlihat panjang namun
perlahan tapi pasti masih bisa melaju.
Namun, olala ternyata ada hal lain yang saya temukan. Ternyata
ada hal lain yang berkonotasi negative walaupun dalam kerangka yang berbeda. Dari
balik kacamata hitam, saya bisa dengan jelas melihat jari pengendara mobil
mewah keluar dan……..melempar sampah ditengah jalan …!!!! What ???
Speechless deh kalau dah kaya gini, karena yang pasti dan
saya yakin yang punya mobil kaya gitu ga mungkin karyawan yang digaji 4 jutaan
sebulan lho hahaha. Dan saya pun yakin mereka ga ada ganjalan keuangan untuk
bersekolah dan mengenyam pendidikan mengenai “buang sampah” sembarangan. Jadi,
apa yang salah dengan kemampuan otak mereka dalam memahami materi “kalau buang
sampah itu di tempat sampah” atau “simpan dulu deh sampai nemu tempat sampah”. Mau
diteriakin “kampungan’ juga kayanya ga cocok deh sama penampilan + kendaraannya
hehehe.
Yang ga kalah sadis adalah ketidaksabaran beberapa kendaraan
yang masuk jalur “Trans Jakarta”. Dan lagi-lagi pengendara mobil mewah ikut
serta dalam lomba balap kaum bikers, kaum yang terakhir saya sebut ga perlu
diperdebatkan lagi keniscayaan mereka dalam berkendara, jangankan jalur Trans
Jakarta, trotoar pun “halal” ko buat jadi jalur trek mereka. Jadilah strata
Mobil mewah dan motor kaum karyawan berbaur menjadi satu tanpa sekat pemisah,
adil kan ? hahaha.
Namun yang menjadi renungan saya adalah, ternyata strata sosial
ga terlalu berpengaruh pada karakter. Secara logika jika tingkat pendidikan
tinggi pastilah pemahaman mengenai hal-hal sepele kaya gitu ga terlalu sulit. Saya
dan istri saya menyadari hal ini, sehingga kami selalu berusaha menyimpan
sampah di kantong kami ketika berada di jalan, walaupun kami masih bikers tapi
yah setidaknya ga ngotorin jalanan deh hehehe.
I think it’s so simply, isn’t it ?

0 Komentar