Habit to Culture



Pagi ini dimulai dengan berita heboh mengenai Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta yang Baru, Jokowi dan Basuki Rahmat (Ahok). Sambil siap-siap berangkat kerja, saya dan istri dengan tekun mendengarkan berita tersebut.

Jokowi – Ahok memang fenomenal, sepak terjangnya yang baru menjabat Gubernur & Wakil Gubernur DKI Jakarta kurang lebih 1 minggu ini cukup membuat saya tersenyum, dalam arti kata “Ada juga ya yang seperti ini”. Seperti pagi ini, diberitakan Jokowi duduk bersama rakyat sambil berdiskusi masalah yang terjadi di “grass root”, sedangkan Ahok dengan sukses membuat petugas notulen rapat mati gaya, karena petugas notulen tersebut tidak mencatat hasil rapat, plus hal yang paling memalukan adalah notulen tersebut menuliskan jalannya sidang di kertas sedangkan notabene di hadapan dia terbuka Laptop. what a…..?????

Aksi Ahok tidak hanya sampai disitu, dia ikut berorasi di depan para demonstran yang datang hari itu dan  -dari yang saya lihat- para demonstran tersebut cukup puas dengan tindakan orasi Ahok tersebut. 

Saya bukan sedang memuji kinerja Jokowi-Ahok, namun yang saya cenderung fikirkan adalah “Inikah hasil dari kebiasaan (habit) yang telah bermetamorfosis menjadi budaya (culture) ?”. Hal tersebut bisa berkonotasi positif ataupun negatif. Tergantung dari metamorfosisnya. Habit kita yang berlangsung bertahun-tahun lambat laun akan menjadi budaya, jika habit tersebut dilakukan oleh mayoritas masyarakat.

Ayo kita ambil contoh habit di lingkungan kita, seperti di sekolah tempat saya mengajar sekarang. Siswa-siswa di-habit-kan untuk selalu mengucapan salam dan mencium tangan gurunya ketika bertemu, terlebih di pagi hari. Habit tersebut dilakukan semenjak sekolah ini pertama kali berdiri sampai sekarang, dan pada akhirnya habit tersebut telah menjadi culture bagi mereka dan para guru pengajarnya. Begitupun dengan di-habit-kannya para guru dan karyawan perempuan untuk memakai jilbab, yang lambat laun akhirnya membuat beberapa guru dan karyawan perempuan di sekolah saya yang awalnya memakai jilbab hanya untuk bekerja menjadi pemakai jilbab tetap. Alhamdulillah…..

Well…. Sebenarnya hal itu berpulang kepada pribadi kita masing-masing, mau membuat habit yang positif atau malah habit negatif. Karena habit tersebut bisa kita lakukan dari hal-hal kecil dalam kehidupan kita. Kalau tidak percaya, lihatlah habit kecil yang berefek besar bagi lingkungan kita sekarang, tahukah kalian apa itu ? …….. yes, the answer is “Buang sampah”

Saya sering dibuat kesal oleh habit yang satu ini, “Membuang sampah sembarangan di jalan raya”. Bagaimana tidak kesal, dari mulai penumpang mobil kendaraan mewah sampai angkutan umum, para penumpangnya dengan santainya membuang kemasan minuman / makanan ke jalanan. Okelah kalau para penumpang umum –walaupun sebenarnya jelek juga- yang terbiasa melakukannya, tapi coba kamu bayangkan orang-orang kaya dengan mobil mewahnya membuka jendela mobilnya hanya untuk melempar sampah ke jalanan ?, apakah mereka tidak diajarkan untuk buang sampah ? di rumah / di sekolah mereka -yang kemungkinan mewah- juga apakah pendidikan “buang sampah” ini diabaikan ? it’s not fit with your car, it’s not fit with your style bro…… come on. Give me a break, is it your high class habit ?

Seperti 2 hari yang lalu, -setelah susah payah membuat si baby cayang tidur pulas hehe- , saya dan istri ngobrol santai mengenai habit. Kesimpulan kami adalah, habit kita dari kecil akan berakibat pada diri kita dewasa nanti, karena habit yang ditanamkan parents kita sejak kecil dengan mendidik nilai-nilai dan habit pada diri kita, akan menempel menjadi culture pribadi kita, entah itu positif/negatif. Hal-hal yang mungkin kita anggap berat ketika melihat orang lain melakukan sesuatu, sebenarnya bagi orang tersebut tidaklah berat karena itu sudah menjadi habit yang bermetamorfosis menadi culture pribadinya. Tidak ada yang berat ketika segala sesuatu telah menjadi cultre, semua akan berjalan otomatis dan secara auto pilot kita akan secara melakukan secara rutin apa yang telah menjadi culture kita. 

Apa yang terjadi pada lingkungan kita adalah cerminan habit yang telah menjadi culture, tumpukan sampah di sungai dan lingkungan kita adalah hasil culture kita sendiri, fenomena “bekerja seadanya” dan tidak disiplin adalah hasil culture kita juga. Banjir yang terus menggenangi Jakarta adalah hasil culture kita selama bertahun-tahun. So, pilihan kembali lagi kepada kita, mau mendidik diri kita dengan habit positif atau habit negatif ? semua adalah pilihan, toh kita sendiri yang menikmati hasilnya. Kembali lagi ke Jokowi-Ahok, “Mampukah bapak-bapak merubah habit para pejabat dan masyarakat kearah yang positif ? sehingga terbentuk culture baru di Jakarta yang tentunya lebih positif”

Salam perubahan……..
Previous
Next Post »
0 Komentar